Kelompok tanpa spirit dan kecakapan kelompok

01 Juni 2013 - Posted by admin

Kelompok tanpa spirit dan kecakapan kelompok

Bicara tentang pembentukan kelompok, ada kawan fasilitator bercerita bahwa dia telah membentuk lebih dari 260 kelompok. “Tapi baru sebatas membentuk kelompok. Seberapa jauh keaktifannya saat ini, saya tidak tahu,” ujarnya jujur.

 

Pada kenyataannya, memang banyak projek yang berorientasi pada pembentukan kelompok. Hanya saja, setelah projek selesai atau bahkan ketika baru saja ditinggal fasilitatornya, tidak sedikit yang kemudian mati segan hidup tidak mau.

 

Ada yang bilang itu disebabkan oleh prosesnya yang instan. Projek datang, kelompok dibentuk. Si ini menjadi ketua, si anu menjadi wakil dan lainya menjabat posisi tertentu. Setelah projek beres, kelompok bubar. Pada sejumlah kasus, yang tertinggal adalah plang namanya.

 

Dalam pandangan kami, esensi kelompok bukanlah sekedar bentuk, struktur organisasi, kepengurusan, atau formalitas pembagian tugas. Bukan siapa menjadi ketua, bendahara, sekretaris atau seksi umum.

 

Memang, bila dikejar “target” aspek-aspek organisasi yang formal itu kerap didahulukan. Karena aspek-aspek itu perlu dimasukkan dalam laporan. Menurut hemat kami, hal-hal itu mestinya muncul belakangan dan lebih baik berasal dari proses yang lebih alami.

 

Yang lebih wajib hukumnya adalah spirit, mental dan kecakapan berkelompok. Di antaranya adalah 1) saling mengenal, 2) kemampuan berkomunikasi termasuk saling memberi feedback/ feed forward dan saling memahami (mutual understanding) untuk memunculkan trust, 3) visi bersama (shared vision) dan juga, 4) kecakapan berkolaborasi atau bekerjasama. Komponen pertama menjadi dasar bagi komponen kedua. Demikian juga kedua bagi ketiga. Dan seterusnya.

 

Mungkin ada yang bertanya, anggota masyarakat kan sudah saling  mengenal, apakah dengan demikian komponen satu bisa ditanggalkan?

 

Apakah mengenal nama artinya sudah mengenal orang? Apakah tinggal bertetangga artinya sudah cukup saling mengenal?

 

Berapa banyak dari kita yang merasa mengenal pasangan hidup kita, tapi kemudian suatu saat kita dapati situasi di mana kita sama sekali tidak mengenalnya?  Karenanya, pengenalan adalah long live inquiry.

 

Mengenal seseorang, apalagi kelompok, bukan hal yang mudah dilakukan. Dan fasilitator sebagai pihak netral dapat membantu proses anggota kelompok untuk saling mengenal. Terutama, mengenal kepentingan dan gaya komunikasi setiap individu.

 

Peran fasilitator lainnya adalah membantu anggota agar dapat saling berkomunikasi. Di sini pengertiannya adalah kecakapan teknis dan juga emosional. Setelah anggota bisa berkomunikasi, visi bersama bisa terbentuk. Ketika visi bersama dirasa sudah mantap, fasilitator bisa membantu anggota untuk meningkatkan kecakapan berkolaborasi. Di sinilah proses pembagian peran atau struktur bisa mulai dimunculkan.

 

Dengan demikian, struktur kelompok berdiri di atas fondasi yang cukup kokoh untuk bisa berjalan secara efektif, berkembang dan berinovasi.

 

Tampaknya yang banyak terjadi saat ini adalah struktur kelompok atau organisasi muncul terlebih dahulu, tanpa fondasi yang kuat.

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 161 + 4 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile