Ketergantungan pada fasilitator

28 April 2013 - Posted by admin

Ketergantungan pada fasilitator

Suatu ketika seorang kawan yang menangani sebuah program berskala nasional bercerita tentang “kehebatan” armada fasilitator programnya. “Mereka sangat dipercaya oleh beneficiaries, yang notebane masyarakat paling miskin di antara yang miskin,” ujarnya. “Kalau mau apa-apa, mereka cari fasilitator kita dulu dan bertanya. Kalau ada ajakan-ajakan dari mana-mana, mereka kontak fasilitator dan tanya fasilitatornya,” lanjutnya.

 

Ada sejumlah detail yang tidak bisa disampaikan di sini, namun pada dasarnya, kawan itu bercerita tentang begitu sentralnya fasilitator bagi kehidupan kelompok masyarakat itu. Dan itu berlangsung bertahun-tahun.

 

Pada kesempatan lain, satu kawan lain bercerita tentang pekerjaan sosialnya menangani anak-anak terpinggirkan (sebagian anak jalanan atau pekerja anak). “Kalau sama saya, anak-anak ga ada yang berani, mereka nurut [untuk mengerjakan sesuatu bersama-sama]. Tapi pas ketemu orang lain, mereka susah diatur,” ceritanya.

 

Di satu sisi, cerita-cerita di atas menggambarkan betapa pentingnya fasilitator bagi kelompok dampingannya. Namun, pada sisi lain, tampak kecenderungan menguatnya ketergantungan kelompok pada fasilitator.

 

Fasilitator di sektor pembangunan sosial (social development) memang tidak bisa selalu memposisikan dirinya sebagai process facilitator. Tuntutan program dan keterbatasan waktu membuat mereka mesti mengatur sana sini atau menentukan ini itu, atau dengan kata lain, mereka masuk dalam ranah content (tujuan, mekanisme kerja, target dll dari kelompok). Meski demikian, mestinya itu bukan alasan mereka membangun “tradisi” ketergantungan.

 

Di tengah tuntutan program, fasilitator bisa melalui tiga tahapan

 

 

1.   Hierarchical. Di sini fasilitator yang memegang peranan untuk mengatur/ menentukan (proses maupun content). Mereka mengatur kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan kelompoknya, target-targetnya maupun konsekuensi-konsekuansinya. Meski demikian, fasilitator sebaiknya tetap memberi porsi untuk partisipasi.

  

2.   Co-operative. Di tahap ini fasilitator menempatkan diri dalam posisi sejajar dengan anggota masyarakat lainnya. Keputusan-keputusan dilakukan bersama. Peran sebagai process facilitator berkembang kuat di tahap ini.

  

3.   Autonomous. Di sini fasilitator menepi, melipir, dan keluar perlahan-lahan. Dalam program social development peran fasilitator di tahap ini lebih banyak mengamati dan akan lebih bagus, menikmati sambil belajar kepada kelompok-kelompok masyarakat.

 

 

 



 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 190 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile