Pilih kasih dan komunikasi intrapribadi

17 Agustus 2015 - Posted by admin

Pilih kasih dan komunikasi intrapribadi

Dalam satu sessi belajar fasilitasi muncul perbincangan tentang guru yang pilih kasih. Pertanyaanya apakah guru yang pilih kasih itu menyatakan secara verbal di kelas bahwa dia lebih suka si ini dari pada si itu?

Jawabannya secara aklamasi adalah tidak. Tapi kenyataannya, pilih kasih itu ada. Hal ini pun disadari oleh guru.

Pilih kasih dikomunikasikan tidak secara langsung. Baik komunikasi verbal maupun non-verbal tidak secara eksplisit menyatakan pilih kasih guru.

Secara verbal, misalnya, dapat dilihat dengan cara memanggil. Adakalanya guru memanggil sebagian murid dipanggil dengan namanya, sementara yang lain tidak dengan namanya. Perasaan yang dipanggil tentu berbeda.

Hal yang halus saja bisa memunculkan kecurigaan bahwa seorang guru pilih kasih. Apalagi bila yang keluar adalah pernyataan-pernyataan yang lebih kuat, seperti “Kamu contoh di anu tuh, dia pintar”; “Si ini saja bisa melakukan, kenapa kamu tidak bisa?”

Cara menanggapi cerita atau pendapat murid juga bisa  membuat murid merasa apakah satu guru menganak-emaskan sebagian murid di antara yang lainnya. “Wah, good point!”; “Bagus itu”;  atau melakukan paraphrasing menunjukkan sikap yang positif.

Tapi adakalanya cara menanggai yang berbeda ditunjukkan pada murid lain. Kecurigaan murid pun bisa muncul.

Sikap pilih kasih pun terlihat dari aspek non-verbal. Melakukan mimicking pada sebagian murid yang berpendapat atau bercerita dan di lain pihak, menunjukkan raut wajah yang “datar”, “cuek” atau “bosan”  pada sebagian lainnya. Ini tentu akan memunculkan kecurigaan.

Bersikap pilih kasih jelas merugikan, karena sebagian murid yang merasa “terpinggirkan” secara otomatis mengurangi “ketulusannya” dan “semangatnya” untuk  mendengarkan guru.

Sikap pilih kasih bisa disengaja ataupun yang tidak disengaja. Kok bisa tidak disengaja?

Salah satu sumbernya adalah komunikasi intrapribadi yang dibangun si guru itu sendiri pada dirinya. Penilaian tertentu terhadap murid kerap menggoda kita membangun bayangan percakapan yang nantinya, kerap kali tanpa disadari memandu percakapan aktual nantinya. Bila kita membayangkan bercakap dengan sebagian murid yang selalu mengumpulkan tugas tepat dengan senyum dan rasa sayang, dan sebaliknya, mereka yang kerap terlambat dengan wajah masam dan kekesalan, kerap kali, hal seperti itu pula yang kejadiannya. “Mengata-ngatai” murid, baik positif maupun negatif, dalam hati juga merupakan bentuk komunikasi intrapribadi yang dapat menghasilkan sikap pilih kasih.

Apalagi bila komunikasi intrapribadi itu diakutualkan dalam perbincangan, semisal perbincangan antarguru yang penuh penilaian terhadap murid. “Wah, si itu sih ga ada motivasi”, “Tukang contek” atau lainnya, sikap pilih kasih  akan semakin mungkin terlihat, walau tidak disengaja. Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.or

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 163 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile