Agar tidak bermasalah dengan pendekatan apresiatif

27 Desember 2012 - Posted by admin

Agar tidak bermasalah dengan pendekatan apresiatif

Suatu hari seorang kawan fasilitator berkeluh kesah, Si Bohir (penyandang dana) “memaksa” mengedukasi masyarakat dengan menunjukkan masalah-masalah di lingkungannya agar mereka sadar. “Tunjukkan got yang kotor, penuh sampah. Juga, kotoran babi di kandang yang dekat belakang rumah. Pokoknya, tunjukkan itu semua biar masyarakat sadar,” ujar Si Bohir.

 

Sementara, kawan fasilitator justru menggunakan pendekatan apresiatif. Ringkasnya, dengan pendekatan itu fasilitator justru lebih menekankan penghargaan pada prestasi atau kondisi yang berhasil dicapai, dengan harapan itu menjadi motivasi untuk perkembangan selanjutnya. Istilah lainnya adalah pendekatan kekuatan (strength-based approach).

 

Dengan pendekatan apresiatif si fasilitator justru mencari sisi-sisi yang bagus atau hebat di masyarakat untuk menginspirasi, memotivasi dan kemudian mendorong aksi yang lebih luas. Jadi, berbeda dengan Si Bohir, kawan fasilitatior tidak ingin menakut-nakuti, membuat orang jijik, khawatir,  seperti yang biasa dilakukan dalam deficit atau problem based approach.

 

Tapi, Si Bohir tidak mengenal pendekatan apresiatif dan hanya mengenal pendekatan masalah.

 

Tentu saja, tidak ada masalah dengan pendekatan masalah atau apresiatif. Tidak bisa dikatakan pendekatan apresiatif lebih unggul dibandingkan dengan pendekatan masalah. Demikian pula sebaliknya.

 

Baik pendekatan masalah atau apresiatif bisa saja digunakan untuk menyelesaikan masalah atau mencapai mimpi tertentu. Bahkan, beberapa fasilitator menggunakan mix dari keduanya.

 

Syarat agar kita bisa secara bijak menggunakan pendekatan-pendekatan itu adalah pemahaman yang cukup tentang pendekatan-pendekatan yang ada. Pemahaman yang parsial kadang membuat fanatisme yang tidak perlu.

 

Dalam cerita kawan fasilitator, tampaknya Si Bohir, yang berlatar belakang teknik sipil, belum paham tentang pendekatan apresiatif. Di lain pihak, Si Bohir terlihat lebih memahami masalah, yang selama ini didukung penuh oleh dunia akademik.

 

Faktanya, memang fasilitator perlu memberikan penjelasan lebih komplit pada bohir-nya sebelum melakukan kegiatan. Menjelaskan struktur kegiatan (bentuk kegiatan, urutan, teknik partisipasi, durasi dan lain-lain) jelas tidak cukup.

 

Menjelaskan pendekatan yang bersebrangan dengan pendekatan umum, seperti pendekatan apresiatif, membutuhkan teknik khusus. Seorang kawan fasilitator lain bercerita dia mengilustrasikan interaksinya dengan anaknya sendiri untuk menjelaskan pendekatan apresiatif. “Kalau anak kita dibilangin salah-salahnya melulu atau kelemahan-kelemahanya melulu, kira-kira apa dia akan termotivasi? Bandingkan dengan bila dia kita puji, wah larimu cepat sekali ya. Kalau latihan terus, bisa juara kamu!,”  ujarnya.

 

Hmm, pas atau tidaknya ilustrasi itu, silahkan diramu ulang dan dicoba saja.

 

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 105 + 3 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile