Proses konflik yang berbuah positif

02 Oktober 2014 - Posted by admin

Proses konflik yang berbuah positif

Konflik adalah sesuatu yang tidak terhindarkan dalam kerja kelompok.  Pada satu sisi, konflik memang dapat melumpuhkan atau mencerai beraikan kelompok. Namun, di sisi lain, konflik juga berpotensi untuk meningkatkan performa kelompok. Seperti diamati Nicotera (1997), konflik dapat meningkatkan kohesivitas kelompok, memelihara keseimbangan kuasa, memfasilitasi perubahan positif baik pada anggota maupun kelompok, membantu pencapaian tujuan, dan membuat kelompok lebih kreatif.

 

Keterampilan komunikasi anggota kelompok memegang peranan cukup penting dalam memanfaatkan konflik sebagai enerji untuk kemajuan kelompok. Terkait dengan ini, idealnya anggota kelompok menunjukkan pola komunikasi yang seimbang antara assertiveness (kepedulian lebih pada diri sendiri) dan cooperativeness (kepedulian lebih pada orang lain), dua dimensi pengelolaan konflik yang dikemukakan Thomas dan Kilman (1986).

 

Dalam kategori yang diberikan Thomas dan Kilman, mereka yang assertive sekaligus cooperative bisa dimasukkan dalam golongan kolaboratif dan bila jumlah mereka dominan, kelompok akan sangat diuntungkan. Selain para kolaborator, kelompok juga bisa diuntungkan dengan kehadiran para compromiser, yang tingkat assertiveness dan cooperativeness-nya dapat dikatakan sedang.

 

Biasanya, yang berpotensi  membatasi kemajuan kelompok adalah dominasi para avoider, akomodator ataupun kompetitor. Avoider memiliki tingkat assertiveness dan cooperativeness-nya terbilang rendah.  Sementara, competitor memiliki tingkat assertiveness tinggi, namun cooperativeness-nya rendah.  Sementara, para akomodator terlalu kooperatif namun tidak assertive.

 

Fasilitator pada dasarnya bekerja untuk menyeimbangkan aspek assertiveness dan cooperativeness di dalam kelompok. Dalam kerangka kerja fasilitasi, tahap divergensi / keberagaman memberi ruang agar orang dapat bersikap lebih bersikap assertive dengan mengemukkan pendapat pribadinya masing-masing. Sementara, di tahap kedua dan ketiga (saling memahami dan konvergensi/ pengerucutan), fasilitator menekankan aspek cooperativeness dengan “menggiring” orang-orang untuk melihat gagasan-gagasan untuk kepentingan bersama.

 

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 122 + 4 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile