Fasilitator sebaya di sekolah

23 Oktober 2013 - Posted by admin

Fasilitator sebaya di sekolah

Bayangkan bila satu kelompok siswa merasa tersinggung dengan kelompok siswa lainnya, sehingga dengan penuh emosi berhasrat menggelar tawuran. Lalu, ada satu atau beberapa siswa dalam kelompok itu yang mengembangkan percakapan di kelompok seperti berikut.

 

“Bro, jangan salah ya, gua sih kaga menentang sama sekali rencana lu-lu bawa samurai, tapi yuk kita omongin dulu. Kira-kira apa bagusnya dan risikonya nih bawa senjata itu? Gua cuma mau mastiin saja  kalau pikiran kita mantap nih.”

 

“Jadi, bagusnya apa saja nih?”;  “Risikonya apa saja nih?”

 

Singkat cerita, satu atau beberapa siswa itu ingin mengajak kelompok berpikir lebih lempeng ketimbang menggunakan nafsu agresinya. Harapannya kelompok bisa mengambil langkah yang lebih masuk akal dari pada memulai tawuran.

 

Bahkan, sebelum percakapan tentang tawuran dimulai siswa atau beberapa siswa itu bisa mulai masuk ke percakapan kelompok siswa seperti berikut.

 

Siswa 1 :       “Kelompok B kurang ajar, mereka nantangin kita. Kita kudu ngasih pelajaran!”

Siswa 2 :       “Emang apa yang lu lihat?”

Siswa 1 :       “Gua tadi jalan di depan mereka terus beberapa anak meludah. Kurang ajar banget ga tuh!

Siswa 2 :       “Emang mereka bilang ngajak berantem?”

Siswa 1 :       “Kaga bilanglah. Tapi itu, ngeludah!”

Siswa 2 :       “Ngeludahnya ke mana?”

Siswa 1 :       “Ya ke tanah…”

Siswa 2 :       “Nah, terus dari mana lu nyimpulin mereka nantangin kita?”

…..

 

Peran siswa dari percakapan emosional itu merujuk pada peran fasilitator sebaya atau spesifik dalam resolusi konflik disebut sebagai peer mediator. Sederhananya mereka adalah siswa-siswa biasa yang dilatih teknik-teknik fasilitasi dasar seperti mendengarkan  aktif, curah pendapat, kepemimpinan yang fasilitatif, komunikasi untuk perkawanan yang positif dll. Tidak ada label atau seragam khusus bagi mereka, namun dengan pelatihan dan pendampingan mereka diharapkan, sewaktu-waktu, bisa terlibat dalam mengembangkan percakapan kelompok yang genting.

 

Menurut Conboy (1994) mediator sebaya menawarkan alternatif positif untuk resolusi konflik, yang sifatnya lebih preventif.  Penelitian-penelitian, seperti yang ditunjukkan oleh Johnson dan Johnson (1996), menyimpulkan bahwa model yang menggunakan teman sebaya itu dapat mengurangi kekerasan di kalangan pelajar dan meningkatkan kerjasama di antara mereka.

 

Risang Rimbatmaja

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 175 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile