Fasilitator M&E (Monitoring dan Evaluation)

23 Oktober 2013 - Posted by admin

Fasilitator M&E (Monitoring dan Evaluation)

Beberapa waktu lalu kami berpartisipasi dalam workshop yang mendiskusikan M&E di sebuah perkumpulan. Organisasi yang dikenal luas dalam pendidikan demokrasi itu ingin mendapat masukan untuk memperbaiki panduan M&E. Menjadi menarik karena setiap partisipan membawa perspektifnya sendiri tentang M&E.

 

Sekedar berbagi, perspektif fasilitator juga sudah dikenal dalam M&E. Beberapa lembaga donor bahkan kini menamakan posisi itu M&E facilitator ketimbang M&E officer. Apa dasar pemikiran di belakangnya? Secara sederhana kami menemukan sbb.

 

Pertama, sebetulnya yang paling mengetahui program adalah orang program (= orang teknis). Karena itu, (kecuali bila telah didikte oleh donor) mestinya orang program sendiri yang memformulasikan indikator-indikator program (input - process - output- outcome dll). Hanya saja, terkadang orang program menemui kesulitan dalam mengidentifikasikan atau merumuskan indikator-indikator kunci. Di sini, fasilitator bisa datang dan mengajak tim program untuk bersama-sama berdiskusi mengenai isi indikator dan formulanya. Bila berproses secara partisipatif dan menarik, proses bisa menghasilkan mutual understanding dan common vision di antara anggota tim. Dua hal itu penting untuk menumbuhkan sense of ownership dan juga semanagat kolaborasi.

 

Kedua, sejauh ini M&E kerap dianggap sebagai tukang kontrol yang merepotkan dan tidak membantu program. Kerjanya tanya dan minta data lalu melakukan evaluasi yang menyebalkan (dan tak jarang ditolak, meski diam-diam). M&E fasilitator ingin mengubah imej melalui proses fasilitasi. Dalam proses pemberian feedback/ feedforward penilaian, M&E fasilitator melakukannya secara partisipatif yang justru akan memunculkan feedback dari tim program sendiri. Jadi, yang terjadi adalah feedback dari tim program untuk tim program sendiri. Teorinya, saran yang muncul dari tim sendiri akan lebih dihargai dari pada diceramahi atau dinilai pihak luar.

 

Ketiga, proses kerja M&E fasilitator diharapkan menumbuhkan kohesivitas tim ketimbang perpecahan. Bukan berita baru, kalau ketika tim menerima feedback/ penilaian dari M&E, impaknya kadang saling menyalahkan. Melalui proses fasilitasi, feedback/ feedforward ataupun penilaian diharapkan berjalan lebih mulus karena setiap anggota diharapkan bisa saling menghargai dan memahami pandangan anggota lain.

 

Moga-moga akan lebih banyak lagi organisasi yang memiliki M&E facilitator sehingga M&E dapat mengubah wajahnya yang kurang menyenangkan menjadi kawan yang membantu program. (Risang Rimbatmaja)

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 140 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile