Dialog bukan monolog dua arah

23 Oktober 2013 - Posted by admin

Dialog bukan monolog dua arah

Mungkin bukan kejadian sekali dua kali kita menjumpai orang yang datang ke kampung kita berkata: “Ibu Bapak atau adik-adik, kami datang ke sini ingin mengajak dialog untuk mencari solusi atas….”, namun selanjutnya, yang kemudian terdengar dominan hanya suara orang itu saja.

 

Datang ke tempat orang-orang atau kelompok yang ingin kita ajak bicara, lalu duduk bersama dengan mereka tidak serta merta berarti dialog. Juga ketika kita memberi orang-orang waktu bertanya agar kita menjawab atau sebaliknya, kita bertanya lalu orang-orang menjawab, pun tidak otomatis berarti dialog.

 

Berbeda dengan dialog, monolog bisa dikatakan sebagai komunikasi di mana satu orang berbicara dan satunya lagi mendengar. Satu pihak mengajari, pihak lain diajari. Di sini, tidak ada interaksi antarmanusia yang sesungguhnya.

 

Ketika polanya adalah satu pihak berceramah atau memaparkan ide, lalu pihak lain, karena terpaksa atau sukarela mendengarkan dan kemudian didorong untuk bertanya, itu sebetulnya tidak lebih dari ekstensi dari monolog. Katakanlah, monolog dua arah.

 

Sudah banyak studi komunikasi menunjukkan bahwa komunikasi (kelompok) akan efektif bila digelar dalam dialog, bukan monolog (di antaranya: McNamee & Gergen, 1999). Dialog di sini bukan sekedar komunikasi dua arah, namun esensinya adalah setiap pihak bisa berganti posisi. Satu waktu satu pihak menjadi pendengar. Pada waktu lain, dia menjadi pembicara. Satu waktu dia menjadi pihak yang belajar, di waktu lain, dia bisa bergerak menjadi pihak yang mengajari. Di sini ada kesadaran bahwa semua adalah pihak yang berarti (signifikan) dan setara/ sederajat dalam proses komunikasi.

 

Kalau pun ada yang mengambil prakarsa terlebih dahulu, seperti orang yang datang ke kampung, dia mesti lebih dulu mencapai tujuan bersama (saling memahami/ mutual understanding) ketimbang memikirkan tujuan komunikasinya (semisal, berkutat pada pikiran bahwa saya datang karena mesti menyampaikan ini itu agar orang tahu dan tergerak melakukan ini itu).

 

Jadi, dalam dialog, masing-masing pihak memiliki kepedulian yang tinggi pada lawan bicaranya sebagai sesama warga yang sederajat. Tujuan utamanya adalah saling memahami. Tidak ada pemaksaan ide sehingga keputusan diambil dengan kebebasan dan tanggung jawab masing-masing.

 

Kembali ke contoh di paragraf pertama di atas. Satu pihak yang dominan menjadi pembicara jelas menunjukkan bukan kegiatan dialog. Juga, secara lebih mendasar, seseorang tidak bisa begitu saja datang mendiktekan bahwa sesuatu adalah masalah yang mesti dicarikan solusi. Justru, apakah itu masalah atau bukan perlu didialogkan terlebih dahulu. (Risang Rimbatmaja)

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 140 + 8 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile