Dialog yang menuju transformasi sosial

23 Oktober 2013 - Posted by admin

Dialog yang menuju transformasi sosial

Dialog kerap kali dianggap sebagai salah satu ranah penting untuk mennuju perubahan atau transformasi sosial. Paling tidak, demikian dikatakan para ahli di bidang ilmu sosial dan juga manajemen. Tapi dialog semacam apa yang bisa membawa perubahan sosial?

 

Fasilitator, mereka yang bekerja di ranah dialog, melihat lebih detail, apa prasyarat dialog untuk perubahan. Mengadaptasi model PDG (Professional Development Group), Landale dan Douglas (2007) dalam The Fast Facilitator membuat segitiga berisi 5 lapisan seperti di atas.

 

Pertama adalah safety yang di sini bisa berarti keamanan atau kenyamanan untuk berdialog. Tidak merasa tertekan, merasa asing, perasaan akan dihakimi bila salah kata atau akan diadukan adalah contoh-contohnya. Bila ada safety maka dialog bisa mengarah ke keterbukaan dan kejujuran. Di sini teknik-teknik fasilitasi untuk divergensi (keragaman ide) sangat berperan. Bila ada keterbukaan alias partisipasi yang aktif, hal yang kemudian menjadi krusial adalah kepercayaan, baik kepercayaan terhadap fasilitator dan utamanya, pada sesama anggota komunitas atau  kelompok. Di sini ide-ide didialogkan. Harapannya, semua orang mendengar dan menghargai ide semua orang, meski itu tidak berarti menyetujui. Bila sudah ada saling percaya, baru kita bisa menjajal tantangan. Pemberian tantangan tanpa kepercayaan akan menghasilkan kercurigaan yang memperbesar. Sementara, dengan landasan kepercayaan, tantangan akan dinilai sebagai tantangan bersama. Bila tantangan dijalani, harapannya, muncullah perubahan.


Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 190 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile