Komunikasi High – Low Context

23 Oktober 2013 - Posted by admin

Komunikasi High – Low Context

Dalam koran pagi ini saya membaca Pak SBY marah besar kepada menterinya yang kongkalikong dengan DPR atau pejabat eksekutif lainnya untuk menyimpangkan anggaran (Pikiran Rakyat 20 Juli 2012). Sebagai tanggapan, di artikel yang sama saya membaca sejumlah menteri memberikan komentar. Menteri Kemenpora mengatakan bahwa teguran itu ditujukan kepada semua menteri (atau dengan kata lain, bukan untuk menteri tertentu). Menteri Kemenakertrans menyatakan bahwa teguran itu bukan ditujukan pada dirinya.

 

Jadi, marah kepada siapakah Pak SBY?

 

Mereka yang  pernah belajar pengantar ilmu komunikasi pastinya mengenal 2 tipe komunikasi dalam hal kemudahan diinterpretasi, yakni high context dan low context. Yang high context membutuhkan informasi-informasi tambahan untuk memahami arti dari isi komunikasi. Kadang sifatnya tidak to the point alias tersirat. Kadang menggunakan simbol lain untuk mewakili maksud tertentu. Kadang kita juga mesti bisa read between the lines.

 

Sementara, yang low context relatif mudah dicerna karena kata-katanya menampilkan makna tersurat, tidak bermakna ganda, sehingga tidak perlu banyak usaha untuk menginterpretasikannya.

 

High - low context communication pada satu sisi adalah masalah gaya komunikasi. Namun, dia juga dapat bersifat instrumentalis, dalam pengertian, penggunaannya terkait dengan tujuan tertentu.

 

Model komunikasi yang diterapkan bisa berbeda di antara departemen yang berbeda.

 

Orang-orang yang bekerja di bidang finance, accounting, engineering akan cenderung menerapkan low context communication.

Agak susah dibayangkan bila seorang kepala tim engineering menginstrusikan kepada timnya: “Kita mesti mencari formula untuk tata kerja mesin yang menyenangkan kita semua.”

 

Namun, seorang dari departemen PR akan biasa mengatakan pada publik bahwa “Perusahaan kami berusaha berkembang bersama masyarakat.”

 

Komunikasi low context di mana interpretasi dikurangi dan presisi dijaga, digunakan untuk mengontrol atau memastikan sesuai berjalan dengan rencana. Komunikasi dalam birokrasi yang hirarkris pada dasarnya ditujukan untuk mengontrol, karena dari ide dari atasan ke bawah mesti dieksekusi secara konsisten.

 

Nah, kembali ke percakapan Pak SBY kepada menteri-menterinya yang penuh amarah.

 

Ketika marah itu tidak jelas ditujukan untuk siapa dan apa yang diharapkan darinya, bisa dikatakan Pak SBY sedang melakukan high context communication. Saya menduga, dampak maksimum pada perilaku kabinet agak sulit diharapkan.

 

Bila mengharapkan perubahan pada kabinetnya, mestinya yang digunakan adalah yang low context yang to the point dan yang specific dari sisi target khalayak maupun perilaku yang diharapkan (dan karenanya, mungkin tidak bisa disebarluaskan ke publik).

 

Di jaman Pak Harto komunikasi high context bisa berdampak kuat dan berfungsi mengontrol karena konteksnya adalah jaman otoriter. Sesuatu yang dianggap menyimpang akan berisiko tinggi. Saat itu komunikasi high context berhasil membuat ketakutan banyak pihak sehingga menimbulkan kehati-hatian, ketakutan dan akhirnya, kepatuhan yang kuat.

 

Di era sekarang, sebagai instruksi, jangan-jangan komunikasi high context justru disalahartikan. Target mudah ngeles. Atau, bisa juga, dari semula memang tidak ditujukan untuk mengontrol.

 

Risang Rimbatmaja  

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 183 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile