Praktik komunikasi: terikat budaya, universal, nilai fasilitator?

23 Oktober 2013 - Posted by admin

Praktik komunikasi: terikat budaya, universal, nilai fasilitator?

Apakah praktik-praktik komunikasi bersifat universal ataukah terikat budaya setempat?

 

Tentu saja, komunikasi itu terikat budaya setempat. Karena itu pula, di kampus ada matakuliah Komunikasi Antarbudaya.

 

Tapi, karena “budaya”-“budaya” itu sendiri berinteraksi, tentu mesti ada kompromi, mungkin yang sifatnya menjadi universal, yang bisa menaungi komunikasi lintasbudaya.

 

Di sinilah terkadang muncul perbenturan-perbenturan budaya. Dan di sini pula fasilitator, yang mengurusi percakapan, kerap bimbang menentukan posisi.

 

Sebagai contoh, dalam satu workshop, ketika membahas komunikasi non-verbal, partisipan seorang ustad muda, bercerita tentang praktiknya mengasuh santri di pondok pesantren. “Kalau saya mengajar, santri mesti nunduk, tidak boleh lihat mata saya,” ungkapnya.

 

“Kenapa tidak boleh melihat mata, bukankah itu muhrim karena laki-laki sama laki-laki?” tanya saya waktu itu.

 

“Itu tidak sopan,” jawabnya.

 

Bercakap-cakap lebih lanjut dan mendalaminya,  terkesan bahwa praktik komunikasi nonverbal semacam itu (pengajar bicara dan murid mesti mendengar sambil menunduk dan menulis/ membaca) terkait erat dengan pola kuasa dan kelangsungannya.

 

Lantas, bagaimana fasilitator percakapan menyikapinya?

 

Meski definisi fasilitator adalah pihak netral yang mengurusi percakapan, netralitas kadang menjadi ilusi. Fasilitator yang membiarkan pola komunikasi semacam itu bisa dipandang melanggengkan “penindasan”; tapi menghadirkan norma baru yang katanya lebih egaliter bisa mendatangkan tuduhan “perusak norma”.

 

Masing-masing tentu hadir dengan argumennya sendiri.

 

Mereka yang menginginkan pola komunikasi yang lebih demokratis melihat komunikasi yang lebih sejajar dan partisipatif sebagai tulang punggung pembelajaran yang efektif. Kepemimpinan lebih didasarkan pada penghargaan dan aktualisasi diri.

 

Yang berlawanan melihat penyerapan ilmu sebagai bentuk kerendah-hatian (yang ditunjukkan secara fisik), kepasrahan (sebagian orang menyebutnya sebagai  kepasrahan yang pasif) dan karenanya, leadership yang didasarkan pada perbedaan penampilan/ perilaku menjadi penting.

 

Mana yang dipilih fasilitator, pada akhirnya, tentu terkait dengan nilai yang diyakini fasilitator juga.

 

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 141 + 9 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile