Kerja fasilitator: Instrumental dan Relationship

04 Juli 2012 - Posted by admin

Kerja fasilitator: Instrumental dan Relationship

“Jadi, mari kita tetapkan ketuanya.”

“Lalu, pengurusnya, sekretaris, bagian logistik dll.”

“Masalah-masalah ini mesti kita buatkan prioritasnya.”

“Nah sekarang, mari kita buat rencana aksi.”

 

Rasanya, penggalan-penggalan percakapan di atas cukup umum dialami  fasilitator. Ini sesuai dengan kerja fasilitator yang berfokus pada proses berkelompok, ketimbang menentukan isi/ tujuan dari percakapan dan kerja kelompok. Jadi, fasilitator tidak menentukan mana masalah yang menjadi prioritas, namun “hanya” membantu anggota kelompok dalam konteks yang demokratis untuk mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapi dan menentukan prioritasnya.

 

Namun, berdasarkan pengalaman kami, kerja fasilitator sebaiknya tidak terbatas pada urusan kerja saja. Yang dimaksud urusan kerja di sini adalah yang berkaitan dengan penyelesaian / pencapaian masalah, target, tugas, rencana dan lain-lain. Stangor dalam bukunya berjudul Social Groups in Action and Interaction (2004) menyebutnya sebagai kegiatan instrumental atau task oriented dari kelompok.

 

Namun lebih dari itu, kerja fasilitator mesti masuk dalam ranah yang disebut Stangor sebagai relationship atau socio-emotional. Ini yang terkait dengan aspek non-kerja, hubungan antarmanusia yang sifatnya lebih emosional.

 

Dalam ranah relationship fasilitator membantu proses saling mengenal, memberi feedback/ feed forward, berbahasa non-judgmental, mengelola prasangka, memahami orang lain, berkawan dan lain-lain.

 

Mengapa fasilitator mesti mengurusi ranah relationship?

 

Ada yang mengatakan bahwa orang Indonesia, seperti halnya pada umumnya orang Asia, lebih mempertimbangkan hubungan antarpribadi ketimbang aspek rasional dalam kelompok. Kalau sudah memiliki hubungan dekat, baru bisa kerja sama. Kalau tidak kenal, agak sulit karena penuh prasangka.

 

Kita juga sering lihat program-program pembangunan via kelompok masyarakat yang menekankan kegiatan instrumental yang kebanyakan bubar akibat konflik atau perpecahan yang tidak bisa diselesaikan ataupun  anggota-anggota yang saling “lepas tangan”.

 

 

Faktanya, meski sekumpulan orang memiliki kapasitas yang hebat dan bisa saling melengkapi, kadangkala ketika kerja berkelompok mereka sering mentok. Ini mungkin seperti tim sepakbola kita yang secara individual jago, namun ketika bekerja dalam tim kerap salah tingkah.

 

Kerja sama perlu hubungan yang baik. Karena kerja kelompok bukan sekedar menjalankan tugas pokok dan fungsi selayaknya sebongkah mesin atau robot. Namun, kerjasama membutuhkan unsur rasa, emosi, insting, dan lain-lain yang berada di luar tugas pokok dan fungsi.

 

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 163 + 4 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile