Menggosipi guru fasilitatif

03 Juli 2012 - Posted by admin

Menggosipi guru fasilitatif

Seorang kawan guru pernah bercerita dia “diomongin” kolega-koleganya karena menggunakan pendekatan fasilitatif di kelas. Kolega-koleganya mengatakan dia merendahkan diri di depan murid-murid. Sebagai guru dia dinilai tidak pintar dan malah bertanya pada murid-muridnya.

 

Lebih lanjut, dikatakan dia kehilangan wibawa karena murid-murid sering menginterupsi paparannya, menyampaikan pandangan yang berbeda bahkan menyatakan dia keliru. Kelaspun kerap riuh dan penuh gelak tawa.

 

Pendekatan fasilitatif bisa membawa perubahan situasi interaksi di kelas. Guru yang dulunya diposisikan yang serba tahu dan yang tidak boleh dikritik, berubah menjadi  kawan belajar. Sekat komunikasi mencair. Murid dan guru bisa saling memuji dan juga saling memberi umpan balik/ maju (feedback/ feedforward).

 

Lebih lanjut, cakupan kerja guru fasilitatif bukan hanya materi pelajaran, namun juga pengembangan interaksi antar-murid. Bahkan, kemampuan komunikasi dan kerjasama murid-murid dipandang sepenting materi pelajaran.

 

Pendekatan fasilitatif mungkin sulit diterima bagi mereka yang menggunakan kacamata berbeda, khususnya mereka yang melihat bahwa 1) guru adalah sumber pengetahuan mutlak, 2) murid adalah gelas kosong yang wajib diam selama guru menerangkan materi, dan 3) tugas guru hanyalah mengajar dan bukan mengurusi interaksi antar-murid.

 

Namun, tuduhan bahwa guru fasilitatif merendahkan diri, kehilangan wibawa ataupun memunculkan keriuhan kelas (chaos?) bukanlah alasan yang kuat untuk menolak pendekatan fasilitatif.

 

Sebaliknya, pendekatan fasilitatif dapat menjadi alternatif mengingat sejumlah pertimbangan. Pertama adalah perubahan karakteristik murid. Setiap kami tanya, apakah ada perbedaaan antara murid saat ini dengan murid-murid jaman dulu, kebanyakan guru senior bercerita bahwa murid sekarang lebih “sulit” dibandingkan murid-murid era 80an apalagi 70an. Bila ditelusuri lebih dalam yang dimaksud dengan “sulit”, ternyata murid-murid di era 70an atau 80an dianggap lebih mudah karena mereka lebih nurut, takut/disiplin terhadap perintah guru.

 

Murid-murid sekarang berada dalam situasi yang berbeda. Alam demokrasi, akses informasi yang lebih luas dan kepemimpinan tradisional yang luntur adalah sebagian aspek lingkungan murid-murid saat ini. Akibatnya, mereka “lebih otonom” atau sebagian mengatakan, “lebih berani” dibandingkan murid-murid di mana berbeda. Dalam konteks seperti ini, pendekatan fasilitatif yang lebih egaliter dan partisipatif rasanya lebih sesuai bagi murid-murid saat ini.

 

Kedua, pendekatan fasillitatif sebetulnya mencoba membangun situasi seperti di rumah (khususnya, rumah yang komunikatif) di mana murid adalah anggota keluarga yang mesti merasa nyaman berada di sekolah, teman-teman  di kelas merupakan teman dalam pengertian sesungguhnya, bukan orang yang kebetulan dikenal karena berada di kelas, kompetitor apalagi musuh. Dan guru adalah kawan senior atau orang tua yang komunikatif.

 

Beberapa penelitian, sepert yang dilakukan Warouw (2007) menggambarkan hal-hal yang perlu diperbaiki. Semisal, dia menemukan dari 100 orang siswa SMU XS (kode samaran) di Jakarta, sebanyak 45% melaporkan enggan berdiskusi dengan gurunya. Rasanya, keengganan ini bisa dipahami bila guru cenderung menampakkan dirinya sebagai mitra diskusi yang tidak menyenangkan, semisal guru yang tidak mau ditanya dan bertanya selayaknya mitra diskusi yang saling menghargai. Guru yang kerap meremehkan pertanyaan atau pendapat siswa tentu membuat siswa enggan.

 

Kondisi komunikasi yang baik diperluan untuk membangun apa yang disebut Konu dan Rimpela (2002) sebagai school well being (having, loving dan being), yang dibuktikan sangat berpengaruh pada pencapaian prestasi siswa.

 

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 177 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile