Berlatih komunikasi bersama anak dan lansia

01 Juni 2013 - Posted by admin

Berlatih komunikasi bersama anak dan lansia

Beberapa waktu lalu kawan dari Bandung yang pernah mengikuti workshop Belajar Bersama Seni Fasilitasi IFN (Indonesia Facilitators’ Network) bercerita tentang tantangan menerapkan keterampilan mendengarkan aktif bersama anaknya sendiri. “Harus sabar banget, tapi lama-lama bisa juga,” ujarnya.


Bisa di sini artinya bahwa pada akhirnya dia bisa “masuk” dalam percakapan si anak, saling mendengarkan, dan pada akhirnya bisa saling mempengaruhi melalui percakapan yang sehat.


Anak atau lansia (lanjut usia) adalah pihak-pihak yang biasanya kami sarankan untuk menguji keterampilan fasilitasi, khususnya dalam mengembangkan percakapan. Bahkan, akan lebih baik lagi bila anaknya adalah anak kita sendiri atau lansianya adalah orang tua kita sendiri.


Berbeda dengan orang-orang yang baru ketemu di jalan ataupun dalam dalam workshop, anak-anak atau lansia cenderung jujur ekspresinya.  Perasaan suka atau tidak suka, menikmati atau tidak menikmati akan mudah ditampakkan. Ekspresi jujur ini bisa menjadi indikator bagi fasilitator untuk melihat kemampuannya.


Tantangan bagi orang dewasa ketika mengembangkan percakapan dengan anak atau lansia adalah kebiasaan menggunakan bahasa koersif/ instruktif, karena mereka dipandang “lebih rendah posisinya”. Bersama anak dan lansia, mau tidak mau, fasilitator perlu kesabaran dan kehatian-hatian.


Mengembangkan percakapan sehat bersama anak sendiri atau orang tua sendiri yang lansia bahkan lebih sulit, khususnya bila sebelumnya kita tidak terbiasa bersikap fasilitatif. Mereka bukan hanya akan menyimak komunikasi verbal dan non-verbal kita saja, namun mereka juga akan mempertimbangkan sejarah percakapan masa lalu. Kalau kita terbiasa bersikap otoriter, tidak mendengarkan, mudah menyuruh-nyuruh, mengumbar power, maka tantangannya akan lebih sulit.


Seorang kawan yang anaknya selalu ketakutan untuk berpendapat di depannya bahkan sempat bertanya, “Apa mungkin saya bisa merubah sikapnya yang seperti itu?”


Sebagai respon, kami malah bertanya balik, “Apakah kamu bisa merubah sikap kamu sendiri? Kalau kamu bisa, ya anak kamu pun bisa dong.”


Kami percaya konstruksi percakapan pada dasarnya bersifat resiprokal. (Risang Rimbatmaja)

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 168 + 9 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile