Ngantuk? Bertanyalah…

19 Agustus 2014 - Posted by admin

Ngantuk? Bertanyalah…

Sewaktu berada di kelas memperhatikan guru atau dosen, lalu kantuk mulai menyerang, segera acungkan tangan, bertanyalah.

 

Cara ini kami praktikkan sendiri ketika mengikuti kuliah-kuliah di kampus. Awalnya, beberapa kawan memandang heran, kenapa kok tiba-tiba, ujug-ujug, kami mengacungkan tangan meminta waktu bertanya. Jawab kami, “supaya tidak ngantuk”; dan acapkali terbukti, kantuk berkurang signifikan.

 

Kalau sekali bertanya kantung belum hilang, bertanyalah lagi!

 

 

Kenapa kalau kita bertanya kantuk hilang?

 

Ada beberapa penjelasan yang bisa diangkat. Secara biomedik, kelihatannya ini terkait dengan faktor adrenalin. Ketika bertanya, mungkin jantung sedikit terpacu (deg-degan) sehingga mungkin suplai oksigen ke otak menjadi lebih bagus. Mungkin. Kami bukan ahlinya (Meski acap kali berinteraksi dengan kelompok dokter, kami tidak pernah menanyakan hal ini).

 

Dari kacamata fasiliitator, jawabannya adalah karena saat kita bertanya, maka kita “memaksa” masuk dalam percakapan.

 

Sebelumnya, entah karena gaya guru atau dosen yang monolog (satu arah, seperti ceramah), penuh konsep yang abstrak dan disampaikan secara cepat (sehingga kita tidak bisa membangun theatre of mind), kurang kontak nonverbal dll, maka yang berkembang adalah percakapan “milik” guru/ dosen itu sendiri. Kita sebagai murid/ mahasiswa berada di luar percakapan itu. Dalam kondisi ini, kantuk cepat menyerang.

 

Bayangkan saja kalau kita mengobrol dengan seorang kawan, namun kawan itu hanya boleh mendengarkan kata-kata kita saja dan tidak boleh nimbrung (bertanya atau berkomentar pendek sekalipun). Berapa lama dia akan bertahan?

 

Kalau kita pencerita yang hebat, mungkin dia bisa berlama-lama, terkesima atau terhanyut dengan cerita kita. Kalau tidak, 5 menit saja rasanya sudah sangat bagus.

 

Obrolan yang nyaman adalah ketika ada pergantian peran (kata orang Jawa, gentenan). Kadang jadi pembicara, kadang jadi pendengar yang baik, tergantung situasi percakapan.

 

Dan, bagusnya “gentenan” ini bukan hanya untuk obrolan antara dua orang, tapi juga obrolan yang lebih besar, seperti antara guru atau dosen ke muridnya di kelas.

 

Standarnya, guru atau dosen menyatakan: “kalau ada yang tidak jelas, nanti saya sediakan waktu untuk bertanya”. Guru atau dosen yang lebih partisipatif akan mengatakan: “Setiap saat ada yang kurang jelas, silahkan bertanya langsung saja!”

 

Hmmm. Sekarang bisa ditambahkan satu lagi, “Kalau ada yang ngantuk, segera bertanya saja supaya kantuknya hilang”.  Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 145 + 4 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile