Mitos Komunikasi Dokter-Pasien

03 Juni 2012 - Posted by admin

Mitos Komunikasi Dokter-Pasien

Detik.com pada 28 Juni 2011 menurunkan berita 80% dokter yang diadukan ke MKDI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia) adalah karena salah komunikasi. Dalam kerja fasilitasi, komunikasi adalah komponen esensial, tanpa komunikasi yang efektif, kerja fasilitasi kemungkinan besar akan gagal.

 

Berkaca dari pengalaman riset komunikasi layanan kesehatan dan sejumlah pembelajaran bersama kawan-kawan dokter muda, Lapangan Kecil ingin mengungkap kembali sejumlah mitos yang tidak selalu bisa dibenarkan (sebagian disebut juga dalam tulisan Detik.com).

 

1.      Komunikasi itu hanya verbal. Sesungguhnya komunikasi non-verbal, seperti kontak mata, senyum, tactile (sentuhan), jarak, postur tubuh dan lain-lain, justru ikut berkontribusi dalam dalam efektivitas interaksi. Bahkan, katanya, how you say it speaks louder than what you say. Penelitian individu di Lapangan Kecil menemukan pasien punya ekspektasi komunikasi non-verbal tertentu dari dokter. Contohnya, kalau dokter tidak melakukan sentuhan tertentu (tactile) saat mendiagnosis, berarti dia tidak serius memeriksa yang artinya, tidak peduli pada kesembuhan pasien. Banyak aspek komunikasi non-verbal yang perlu dipelajari dokter agar pasien merasa nyaman, mau melakukan self-disclosure, bahkan tersugesti dan akhirnya mau mengikuti kata-kata dokter.

 

2.      Komunikasi itu perkara menyampaikan. Dalam konteks fasilitasi dan interaksi dokter dan pasien, komunikasi dari sisi dokter yang pertama perlu dikembangkan bukan menyampaikan pesan atau nasehat tapi justru mendengarkan. Di sini, mendengarkan bukan berarti pasif melongo, tapi justru memancing pasien dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa mengungkap pengalaman/ perasaan pasien sekaligus membangun hubungan yang lebih kondusif.

 

3.      Komunikasi itu memberi penjelasan yang rasional yang sejelas-jelasnya. Dalam komunikasi aspek yang mesti diperhatikan adalah aspek rasional maupun emosional. Kadang dokter melupakan bahwa pasien itu manusia juga yang punya perasaan. Di sini, kemampuan berempatik menjadi sangat krusial.

 

4.      Komunikasi yang bagus itu masalah waktu, semakin lama semakin bagus. Pada dasarnya lama waktu memang bisa membantu, tapi lama waktu interaksi tidak otomatis membangun kepercayaan atau hubungan yang kondusif. Ada pengalaman seorang pasien di mana dia mengalami interaksi dengan dokter cukup lama, tapi dia merasa nyaman karena si dokter cenderung mengambil sikap menyalahkan pasien. Sementara, ada pula dokter puskesmas yang hanya punya waktu beberapa menit melayani pasien, tapi pasiennya merasa senang dan yakin karena dalam waktu singkat di dokter bisa berkomunikasi secara efektif.

 

5.      Belajar komunikasi sebagi ilmu. Komunikasi itu punya berbagai rupa. Selain sebagai ilmu, dia juga memiliki muka seni yang penuh dengan aspek kultural dan insting. Boleh saja seorang dokter belajar komunikasi sampai ke luar negeri dan mengambil sejumlah sertifikasi (semisal, CCOG), tapi komunikasi itu menyangkut manusia yang penuh dengan aspek budayanya. Bukan hanya pasien Indonesia yang mungkin berbeda dengan pasien di Eropa, tetapi satu dokter mungkin berbeda gaya komunikasi dengan dokter lain. Bukan sesuatu yang natural untuk menstandarkan gaya komunikasi dokter (semisal, semuanya mesti tersenyum lebar atau selalu melempar humor). Karena itu, yang penting adalah upaya untuk belajar sendiri di lapangan atau learning by doing. Pendidikan, workshop ataupun pelatihan intinya adalah memberi kapasitas dokter untuk mempelajari sendiri bagaimana mengembangkan komunikasi yang efektif, jadi semacam metodologi untuk pembelajaran dan penemuan kekuatan ybs.  Risang Rimbatmaja

Komentar

re, 18 September 2015 20:10:41
Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai kedokteran indonesia.Benar benar sangat bermamfaat dalam menambah wawasan kita menjadi mengetahui lebih jauh mengenai ilmu indonesia.Saya juga mempunyai artikel yang sejenis mengenai indonesia yang bisa anda kunjungi di sini
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 194 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile