Negara gagal, kebersamaan dan keadilan komunikasi

21 Juni 2012 - Posted by admin

Negara gagal, kebersamaan dan keadilan komunikasi

Kemarin, Indonesia diberitakan duduk di peringkat 63 dalam daftar negara gagal. Seperti mudah diprediksi, sejurus kemudian, pro kontra bermunculan di media massa. Di antara keramaian berita, ada satu baris di headline sebuah surat kabar yang menarik perhatian kami: Perlu kebersamaan untuk perbaiki kekurangan.

 

Line itu mengingatkan kami akan pertanyaan Prof Bambang Shergi di satu sessi kelas Analisis Kebijakan Sosial. Apakah mungkin ada integrasi bila tidak ada keadilan? Tanpa keadilan, mungkinkah bangsa ini bisa terus bersama, bersatu dan, lebih dari itu, bersatu bekerjasama mencapai impian bersama?

 

Mungkinkah kita bersatu bila koruptor milyaran rupiah dihukum ringan sementara pencuri kambing dihukum berat? Mungkinkah kita berintegrasi bila satu kelompok (keluarga, kroni, putra daerah atau siapapun) mendapat peluang lebih besar dibandingkan kelompok lainnya?

 

Jawabannya mudah saja. Tidak mungkin ada integrasi bila tidak ada keadilan. Kecuali, mungkin kalau integrasinya itu didasarkan pada ketakutan, represi, pembodohan atau ketidakpedulian. Itu pun sudah  tidak relevan untuk Indonesia saat ini.

 

Diskusi tentang kebersamaaan perlu dikaitkan dengan keadilan, termasuk keadilan ekonomi,  sosial, dan lain-lain.

 

Bagi seorang fasilitatior, keadilan yang menjadi perhatiannya adalah keadilan dalam berkomunikasi.

 

Sama seperti sebelumnya, pertanyaannya adalah apakah mungkin suatu kumpulan orang bisa bersatu bekerjasama bila satu atau beberapa orang mendapat privilege/ hak istimewa berkomunikasi dibanding yang lainnya? Atau lebih parah lagi, bila fasilitatornya justru yang mendapat privilege, bicara lebih banyak, mengatur produksi percakapan, pengetahuan dan keputusan?

 

Dalam berkomunkasi, keadilan mengacu pada tersedianya ruang yang nyaman bagi setiap orang untuk berbicara dan juga didengarkan. Right to speak dan juga right to be heard.

 

Satu lagi yang kadang dilupakan, adalah hak untuk dimengerti. Dalam kerangka kerja fasilitasi, ini syarat penting untuk masuk ke dalam tahap mutual understanding.

 

Jadi, bukan hanya mengatur agar semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara dan memastikan ketika satu orang bicara, yang lain memperhatikan. Namun, juga memastikan ada pemahaman atas isi pembicaraan orang lain.

 

Tidak mudah menerapkannya, karena tak sedikit partisipan yang merasa aneh ketika kami memaksa lawan bicara untuk melakukan paraphrasing.

 

“Silahkan, menanggapi masukan kawan tadi. Namun, sebelum melontarkan persetujuan atau sanggahan dan penjelasannya, tolong sampaikan inti masukan kawan tadi. Jangan mulai menanggapi sebelum menyampikan kembali inti masukan kawan tadi!” demikian pernyataan yang kami kerap lontarkan dalam diskusi yang mulai memanas untuk memastikan ada pemahaman di semua pihak.

 

Hal lain yang perlu “dibereskan” adalah penggunaan kata-kata. Meminta pembicara mendeskripsikan bahasa yang judgmental, yang biasanya bias dengan emosi, prasangka atau aspek subjektif yang negatif lainnya. Juga mengharmonisasi abstraksi kata-kata.

 

“Saya berpendapat rencana itu tidak efisien dan sophisticated” ujar seorang tokoh masyarakat dalam satu diskusi.

 

Fasilitator tentu paham banyak warga yang tidak terbiasa dengan istilah-istilah langit seperti itu. Dan penggunaannya terhadap orang awam, bukan hanya akan menghambat komunikasi, namun kadang digunakan sebagai alat penekan/ kuasa. Menjadi tugas fasilitator meminta pembicara menguraikan/ menurunkan kata-kata itu dan membiasakan pembicara menggunakan kata-kata yang lebih umum. Semisal dengan mendengarkan aktif, “Efisien maksudnya?” “Bisa berikan contoh yang kasat mata?”

 

“Oh, jadi maksud Bapak itu ribet kalau buang sampahnya itu pakai motor ya? Jadi ribet...”  Penekanan kata-kata yang umum diharapkan dapat menggantikan kata-kata langit itu dalam percakapan selanjutnya.

 

Sementara itu, posisi fasilitator diusahakan netral. Maksudnya netral, bukan hanya tidak berpihak (non partisan), namun juga fokus menggarap proses ketimbang isi dengan bertanya dan berbicara sependek mungkin.

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 163 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile