Jangan-jangan ini gara-gara toleransi…

19 Juni 2012 - Posted by admin

Jangan-jangan ini gara-gara toleransi…

Konflik agama atau kadang suku, masih muncul di sana sini. Lantas, orang bicara tentang toleransi. Dikatakan bahwa toleransi adalah tantangan terbesar yang dihadapi bangsa ini.

 

Jangan-jangan di sini letak masalahnya.

 

Kita mengejar toleransi di nusantara. Sementara, toleransi adalah sikap minimal dalam hubungan antaragama atau  suku yang akan selalu dinamis. Dari definisi saja, toleransi hanyalah sebatas membiarkan sesuatu yang tidak disetujuinya (silahkan check di http://en.wikipedia.org/wiki/Tolerance).

 

Hubungan selalu berada dalam konteks yang dinamis  dan seperti hubungan dengan pasangan hidup, stagnansi akan berarti kemunduran. Silahkan refleksikan hubungan dengan pasangan hidup kita. Rasanya, kalau kita tidak mencari cara untuk lebih membuat dia senang, semisal dalam berkomunikasi, maka yang itu-itu saja akan menghasilkan kebosanan dan akhirnya kemunduran.

 

Stagnan berarti mundur. Bahkan, ada yang sampai mengatakan, kalau hubungan tidak maju, maka akan mundur.

 

Pilihannya adalah mengembangkan hubungan terus menerus. Mencari cara bertutur kata yang lebih menyenangkan. Mendalami pribadi masing-masing. Mencari penemuan-penemuan baru untuk dipahami dan diselaraskan. Membuat kejutan-kejutan yang positif dan seterusnya.

 

Di lain pihak, toleransi adalah sikap minimal, yang pasif pula. Hubungan yang berbasis sikap minimal akan sangat rentan. Lebih-lebih bila sikap itu diletakkan sebagai “target”, yang stagnan, maka siap-siap mendapati kemunduran.

 

Mestinya kita mengejar lebih tinggi dari toleransi.

 

Jadi, tidak sampai sebatas toleransi. Lebih dari itu, mesti ada interaksi, ada saling memahami, kemudian pertemanan atau kerja sama. Harapannnya, tentu saja, keragaman menjadi modal kerja sama yang konstruktif bagi bangsa ini.

 

Cerita tentang keragaman bangsa ini rasanya bisa diminiaturkan dengan kasus keberagaman etnis di sekolah yang digambarkan Slavin (1990).

 

Sekolah yang diramaikan oleh siswa dengan beragam latar belakang etnis (seperti Indonesia), mereka toleran, tapi bermain tetap dengan kelompok etnisnya sendiri. Pulang ke rumah bersama kawan-kawan seetnis dengan bis-bis masing-masing. Sementara, kontak yang terjadi lebih bersifat kompetitif (persaingan nilai, persaingan untuk mendapatkan perhatian guru dan sebagainya. Di kita ini mungkin bisnis atau politik). Situasi interaksi semacam ini tentu tidak membangun hubungan antar-etnis yang konstruktif dan rentan konflik.

 

Membawa teori kontak dari Alport (Nature of Prejudice, 1954) Slavin melihat, mestinya, siswa-siswa yang berbeda etnis itu difasilitasi untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama dalam posisi yang sama. Mereka juga seharusnya diberi kesempatan untuk saling mengenal sebagai individual, sehingga bisa menghasilkan pertemanan.

 

Pertanyaannya, apakah negara bisa memfasilitasi kerjasama dan interaksi antaragama dan suku di nusantara ini? Risang Rimbatmaja

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 129 + 2 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile