Mengajarkan Bhinneka Tunggal Ika

16 Juni 2012 - Posted by admin

Mengajarkan Bhinneka Tunggal Ika

Kita semua mahfum bahwa mengajarkan Bhinneka Tunggal Ika atau keberagaman, termasuk hubungan antarsuku danagama, perlu dimulai sejak dini. Di sini, sekolah menjadi tempat yang strategis.

 

Namun, ketika berbicara mengenai sekolah, biasanya kita terjebak pada gagasan tentang kurikulum atau lebih sepesifik, mata pelajaran. Katanya, masukkan keberagaman dalam pelajaran siswa!  Kalau nilainya jelek, maka siswa itu tidak ber-bhinekka tunggal ika?

 

Hmm….?

 

Pengalaman menunjukkan, untuk mengajarkan hidup dalam keberagaman dibutuhkan lebih dari sekedar teori teoritis.

 

Karena itu, di beberapa negara, dibuat kebijakan yang lebih serius, semisal kebijakan desegregasi sekolah, di mana sekolah tidak berisi satu siswa dari agama atau suku saja. Sekolah yang desegregatif akan diramaikan siswa-siswi dari beragam suku dan agama.

 

Namun, sejumlah studi, menemukan desegragasi merupakan syarat perlu, bukan syarat cukup. Dengan kata lain, desegregasi saja tidak memadai.  

 

Desegragasi sekolah memiliki efek positif terhadap toleransi antar-etnis (Scott & McPartland, 1982; dikutip dari Slavin, 1990) dan, seperti diungkap Slavin (1990) toleransi saja tidak cukup, karena [pada tingkat itu] kesukuan masih menjadi halangan yang kuat untuk pertemanan.

 

Teori kontak (theory contact) yang dikemukan Allport dalam Nature of Prejudice (1954; dikutip dalam Slavin, 1990) menjelaskan masalah ini lebih lanjut. Contact theory, yang mengangkat pentingnya perhatian pada kontak antaretinis, melihat bahwa terdapat kontak-kontak yang dapat merusak hubungan antar-etnis, yakni 1) kontak superfisial/ tingkat permukaan, 2)  kontak yang sifatnya kompetitif/ dalam konteks persaingan (persaingan nilai, misalnya), dan 3) kontak di antara individu-individu dengan tingkat status yang sangat berbeda.

 

Alport mengajukan bukti-bukti bahwa kontak bisa membangun hubungan antar-etinis yang lebih baik, yakni 1) bila mereka yang berbeda etnis bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, 2) memiliki kesempatan untuk saling mengenal sebagai individual, 3) bila mereka saling bekerja sama dalam posisi yang sama dan kemudian menjadi teman.

 

Sekolah yang berisi siswa dalam beragam etnis dan agama adalah sebuah peluang untuk mengajarkan keberagaman. Demikian pula dengan pengacakan tempat duduk siswa sehingga siswa berkesempatan duduk bersama siswa-siswa dengan latar belakang yang berbeda.

 

Namun, lebih dalam, guru perlu menugaskan siswa-siwa yang beragam itu untuk mengerjakan sebuah pekerjaan bersama. Guru pun perlu memfasilitasi siswa untuk saling mengenal secara lebih dalam. Di sini peran guru fasilitatif menjadi penting. Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 153 + 8 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile