Bahasa Birokratis versus Bahasa Kampung

12 Juni 2012 - Posted by admin

Bahasa Birokratis versus Bahasa Kampung

Apakah betul ada bahasa birokratis atau bahasa kampung? Apakah keduanya berbeda?

 

Keduanya memang bisa menggunakan Bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah. Utamanya bukan perkara bahasa.

 

Bahasa birokratis biasanya terdengar sangat konseptual, logis, dan hirarkis yang ujung-ujungnya bertujuan untuk mengontrol.  

 

“Yang dimaksud dengan diare adalah……”; “Modal kerja itu terdiri dari…….”; (konseptual)

“Tujuan dari kegiatan ini adalah…”; “Masalah yang ibu/ bapak hadapi bisa ditangani dengan….”;(logis)

“Ibu/bapak harus berpartisipasi dalam kegiatan ini karena pemerintah sudah ini itu”; (hirarkis)

 

Birokrasi memang mesti menggunakan bahasa  yang secara konseptual jelas definisi/ pengertiannya, logis hubungan antara konsepnya dan hirarkis. Ini tidak lain karena birokrasi pada dasarnya adalah semacam sistem komando. Tujuan dan kegiatan-kegiatan ditetapkan di atas dan diawasi oleh yang atas. Sementara, yang bawah bertugas mengeksekusi sesuai dengan petunjuk teknis.

 

Hidup di dunia birokrasi memang hirarkis. Kalau tidak, semisal bawahannya membuat kegiatan semau-maunya, bisa kacau organisasi.

 

Tapi, dunia kampung bukanlah birokrasi. Tidak ada hirarki yang mengikat seperti birokrasi. Warga tidak terikat tupoksi, apalagi mendapat gaji. Untuk urusan kampung, warga lebih banyak  bekerja berdasarkan asas sukarela.

 

Maka itu, bahasanya pun berbeda.

 

Obrolan sehari-hari, seperti itulah bahasa di kampung. Egaliter alias sederajat (kecuali bila berhadapan dengan tokoh masyarakat). Yang juga menonjol, bahasa ngobrol itu lebih seperti ngedongeng, story telling atau bercerita dan semuanya membentuk theatre of mind, seperti film yang bermain di kepala kita.

 

Ketika ngobrol, percakapan akan membentuk panggung, ada lakon-lakonnya dengan karakter masing-masing, alur cerita, detial deskripsi situasi, dialog hidup, kata-kata yang menyerupai gerak dan penuh emosi.  Beda sekali dengan bahasa birokratis yang garing untuk membatasi interpretasi.

 

Untuk jelasnya, silahkan bedakan narasi di bawah ini yang memiliki tujuan yang sama.

 

“Perlu ibu/ bapak ketahui, kemarin saya mendapat undangan dari Pak Lurah untuk menghadiri pertemuan kebersihan. Pada pertemuan itu, Pak Lurah meminta kita semua untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Yang dimaksud dengan kebersihan lingkungan adalah kebersihan kotoran manusia, air limbah, dan sampah.”

 

“Ibu, bapak, saya kemarin itu sedang ngopi di rumah…sruupp.. nyantai…eh, hape bunyi. Saya angkat, ternyata pak Lurah. Dia bilang, Bud besok datang ya..ada meeting nih! Saya bilang, siap Pak Lurah. Di pertemuan itu, pak Lurah ternyata marah sama saya. Bud, warga RW kamu bagaimana sih? Masa itu sampah di solokan ga hilang-hilang? RW lain sekarang sudah bersih tuh. Ayo dong!”

 

Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 143 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile