Mendengarkan = Diam?

24 Juni 2012 - Posted by admin

Mendengarkan = Diam?

Mendengarkan kok aktif? Bukankah kalau mendengar kita mesti diam?

 

Dalam pandangan umum, mendengarkan sama dengan meneng (bahasa Jawa, yang artinya diam) dan  manut (= menurut). Bahkan, kalau orang tua kita sedang marah besar dan berbicara keras supaya kita mendengarkan perkataan dia, maka itu artinya kita mesti meneng dan manut.

 

Mendengarkan yang artinya meneng dan manut jelas berada dalam kondisi komunikasi yang sangat hirarkis. Satu orang posisinya lebih tinggi dibandingkan yang lainnya. Sehingga, orang yang lebih tinggi berhak memberi instruksi.

 

Tapi apakah meneng itu artinya setuju? Apakah ketika kita manut, artinya kita setuju dan ikhlas melakukannya?

 

Banyak orang yang diam ketika  mendengarkan nasehat, tapi  kemudian nasehat itu tidak dijalaninya sama sekali. Atau diam ketika mendengarkan instruksi, tapi kemudian melakukan kesalahan-kesalahan ketika melaksanakan instruksinya.

 

Persoalannya terletak pada salah paham: mendengarkan = meneng dan manut, yang menempatkan manusia sebagai objek pasif.

 

Proses mendengarkan itu sangat tergantung dari pendengar itu sendiri. Membandingkan dengan penonton TV, dia memiliki remote control untuk melakukan seleksi informasi. Jadi, kita bisa saja berbicara pada seorang anak dan anak itu diam terpukur, namun pada akhirnya anak itu sendiri yang menentukan apakah kata-kata hanya melintasi telinga kiri–kanan ataukah dicerna lebih lanjut.

 

Dalam proses mendengarkan aktif, seseorang memberikan umpan balik atau tanda-tanda bahwa dia menyimak pembicaraan, semisal dengan menanyakan hal-hal yang belum jelas (generalization),  yang belum terungkap (deletion), sisi lain (distortion) dan bahkan kontradiksi dalam pesan. Akibatnya, pendengar aktif justru akan bertanya ketimbang meneng. Seperti kalau seorang guru menasehati seorang siswa, “Budi, ayo kamu mesti belajar lebih  kreatif lagi dong!”, maka sebagai pendengar aktif, Budi bisa bertanya, “Yang kreatif itu seperti apa sih Bu? Bagaimana caranya? dsb.

 

Ketika si Budi bertanya seperti itu, paling tidak, kita menjadi tahu bahwa dia tengah menyimak, memberi perhatian pada guru, sebagai lawan bicaranya.  Rasanya ini lebih baik ketimbang meminta si Budi diam, padahal dia tidak memberi perhatian pada kata-kata kita. Risang Rimbatmaja

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 142 + 7 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile