Berkomunikasi Tanpa Modal Orator Ulung

03 Juni 2012 - Posted by admin

Berkomunikasi Tanpa Modal Orator Ulung

Selama ini orang percaya bahwa keberhasilan komunikasi seorang penyuluh tergantung dari keulungan berorasi atau berceramah. Bila dia menguasai materi, pandai bertutur kata, berani tampil, punya irama yang menghanyutkan, humoris, maka komunikasi akan berhasil. Sebaliknya, bila dia pendiam, pemalu, gugup, kurang menguasai materi, maka umumnya orang menilai komunikasinya alamat gagal.

 

Apakah betul seperti itu? Jawabannya tidak. Anda tetap bisa menjadi komunikator yang efektif meski Anda seorang yang pendiam, pemalu, gugupan, atau bahkan rendah diri. Bahkan, bisa lebih efektif dibanding mereka yang tampak sebagai orator ulung.

 

Kok bisa?

Sebelum menjelaskan lebih lanjut, lebih baik kita menengok dulu apa yang dimaksud dengan komunikasi yang berhasil.

 

Keberhasilan jelas tergantung dari tujuan komunikasi. Pada dasarnya komunikasi bisa ditujukan untuk memberi pengetahuan baru pada khalayak tertentu; menanamkan atau menguatkan sikap atau nilai; ataupun mempengaruhi terbentuknya perilaku tertentu. Jadi, keberhasilan komunikasi tergantung dari apa tujuan komunikasinya?

 

Untuk mencapai tujuan komunikasi, penting untuk kita pahami bahwa komunikasi itu melibatkan komunikator (penyampai pesan) dan juga komunikan (penerima pesan). Dalam pandangan umum, ketika terjadi penyuluhan, yang menjadi komunikator adalah Si Penyuluh (bisa tenaga kesehatan, relawan, tenaga penyuluh lapangan dll), sementara, komunikan adalah ibu-ibu balita atau suaminya atau kelompok masyarakat lainnya. Meski cara pandang itu sah-sah saja, namun dalam praktiknya, kategorisasi seperti itu terlalu menyederhanakan.

 

Dalam praktik penyuluhan, seorang penyuluh, selain menjadi komunikator, pun menjadi komunikan. Demikian juga ibu-ibu balita atau bapak-bapak petani. Pada satu saat mereka menjadi komunikan, namun di saat yang lain, mereka pun menjadi komunikator.

 

Coba perhatikan. Ketika penyuluh bicara, kadang sebagian ibu-ibu membuat ”diskusi swasta”. Atau, ada kalanya ibu-ibu bertanya atau menjelaskan sesuatu pada penyuluh. Pada saat itu, ibu-ibu menjadi komunikator bukan komunikan.

 

Jadi, kita punya peran berganda dalam proses komunikasi, berganti-ganti dengan cepat atau kadang malah tumpang tindah. Di waktu kita minta orang mendengar kadang ada orang yang lain yang minta didengar.

 

Karenanya, dalam komunikasi berlaku hukum resiprokal (timbal balik). Kalau ingin didengar, maka dengarkanlah. Kalau ingin disimak, menyimaklah. Kalau ingin idenya diterima, maka terima ide orang lain dengan pikiran terbuka. Kalau ingin mengubah perilaku orang, tunjukkanlah bahwa kita pun bisa dengan mudah merubah perilaku ke arah yang lebih baik.

 

Logikanya mudah saja. Bila seorang Ibu merasa didengarkan, dia akan cenderung mendengar. ”Bu Bidan saja mau mendengarkan saya, kenapa saya tidak mau mendengarkan kata-kata Bu Kader?” mungkin begitu kata seorang Ibu balita.

 

Hukum resiprokal itu adalah bentuk permukaan dari trust (kepercayaan), yang merupakan fondasi utama berkomunikasi. Tanpa trust, tidak akan terjadi komunikasi. Yang ada hanyalah lemparan-lemparan pesan tanpa harus disimpan (diingat), diterima, diyakini apalagi ditindaklanjuti dengan perilaku.

 

Dari sini, rasanya cukup jelas bahwa berkomunikasi tidak selalu terkait dengan kemampuan berorasi ulung.

 

Memahami adanya hukum resiprokal, maka siapapun yang ingin berkomunikasi efektif perlu belajar dan mempraktikkan keterampilan mendengar, bertanya, menyimak, menerima, menghargai dan menindaklanjuti ide-ide.

 

Nah, kembali kepada mereka yang pendiam, pemalu, gugup, atau kurang menguasasi materi, apakah mereka bisa berkomunikasi?

 

Selama mereka bisa mendengar, menyimak, menerima, menghargai atau menindaklanjuti ide-ide, maka mereka tentu bisa berkomunikasi secara efektif. Pendiam? Selama itu membuatnya bisa menyimak, maka itu menjadi karakter yang ampuh. Rendah diri, malu, gugup atau merasa kurang menguasai materi? Tidak masalah, selama itu membuat kita bersungguh-sungguh ingin belajar dari kelompok, maka itu justru menjadi kekuatan.

 

Yang penting bagi penyuluh yang pemalu, rendah diri, pendiam, gugup atau merasa tidak ahli adalah tingkatkan saja keterampilan mendengar, bertanya, menyimak, menghargai, dan menindaklanjuti ide-ide. Tidak terlalu sulit. Apalagi, bagi kebanyakan dari mereka, sudah terbiasa dengan itu semua. Risang Rimbatmaja

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 128 + 3 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile