Ironi Peer Education (Pendidikan Teman Sebaya)

03 Juni 2012 - Posted by admin

Ironi Peer Education (Pendidikan Teman Sebaya)

Kerap kali kami mendapatkan cerita di mana seseorang yang menjadi peer educator  atau pendidik (teman) sebaya berubah jadi sombong, sehingga dijauhi kawan-kawan atau sesama warga.

 

Satu waktu kami mendapati cerita tentang seorang remaja yang dipilih menjadi peer educator  kesehatan reproduksi  karena dinilai memiliki pengaruh terhadap kawan-kawannya. Namun setelah berinteraksi dengan program melalui kegiatan-kegiatan pelatihan dan pendampingan, dia kemudian dipandang kawan-kawannya sok tahu. Kata kawan-kawannya, dia sudah ga asyik lagi.

 

Hal yang sama kerap kami temui di lingkungan kader-kader Posyandu. Kami kadang menjumpai omong-omongan warga yang justru mempertanyakan kredibilitas kader untuk berbicara selayaknya dokter/ tenaga kesehatan. Dan kebetulan, isu itu berkembang setelah kader-kader berinteraksi dengan program pelatihan dari tenaga kesehatan/ Puskesmas.

 

Kalau ini yang berlaku dalam program peer education, tentu ada yang perlu dipertanyakan.

 

Peer educator atau pendidik sebaya jelas tidak bisa diposisikan sama seperti narasumber atau ahli. Meski labelnya dokter kecil, mereka bukan dokter . Meski kader dilatih tentang sejumlah isu kesehatan masyarakat, mereka bukan ahli kesehatan masyarakat atau dokter karena mereka tidak mendapat pelatihan dan gelar yang sesungguhnya. Jadi, konsep pelatihan atau peningkatan kapasitas yang ingin membuat peer educator memiliki kredibilitas yang sama dengan expert educator (dokter, ahli kesehatan masyarakat dll) agak mustahil dicapai.

 

Justru, sangat riskan mengharapkan pendidik sebaya berposisi selayaknya expert educator,  karena tanpa disadari program telah mengganti identitas mereka aslinya. Padahal, identitas yang asli itulah yang membuat mereka berpengaruh .

 

Tanpa disadari program yang memanfaatkan strategi peer education mengubah gaya komunikasi termasuk perilaku, cara bicara, dan/ atau logika peer educator-nya sendiri. Bukannya memperkuat gaya komunikasi yang telah diterima dan membuatnya berpengaruh, program kerap menularkan gaya komunikasi baru, termasuk bahasa, istilah-istilah, tata cara menyampaikan, logika  dan bahkan penampilan baru. Akibatnya, alih-alih memiliki pengaruh, gaya baru itu justru mengagetkan lingkungannya.

 

Walhasil, tidak jarang dijumpai peer educator yang tetap bergaul erat dengan kelompoknya namun tidak berupaya mempengaruhi kawan-kawannya, seperti  yang diamanahkan program. Namun sebaliknya, ada peer educator yang berupaya keras mempengaruhi kawan-kawannya, tapi lambat laun dijauhi kawan-kawannya.

 

Keduanya tentu tidak kita harapkan. Kita berharap peer educator yang tetap bergaul erat dengan kelompoknya dan memiliki pengaruh yang juga aktif mempengaruhi kawan-kawannya  sesuai amanah program.

 

Kuncinya adalah jangan mengubah apalagi mengganti gaya komunikasi. Justru program mesti membantu memperkuat gaya komunikasi yang diterima kelompoknya. Risang Rimbatmaja

 

Komentar

badiatul chusnia, 02 Juni 2016 17:17:14
saya sangat sepakat sekali dengan artikel ini, karena realita ini banyak terjadi di masyarakat. jadi alangkah baiknya jika peer educator juga di bekali metode komunikasi yang baik
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 191 + 5 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile