Mengajarkan Keberagaman

03 Juni 2012 - Posted by admin

Mengajarkan Keberagaman

Bagaimana mungkin kita kita bisa mengajaarkan bahwa keberagaman itu membawa kemajuan ketimbang kemunduran. Terutama, ketika fakta berbicara lain.

 

Di sana sini perbedaan agama mencetuskan konflik, baik yang terbuka maupun tersembunyi di dada penuh sekam. Keberagaman etnis di banyak tempat memunculkan chauvisnisme yang (secara setengah resmi) merasuk dalam berbagai ranah kehidupan, termasuk bidang politik dan birokrasi. Tuntutan pemimpin lokal atau kepala kantor versi putra daerah adalah salah satu faktanya.

 

Sejumlah studi, khususnya dalam konteks kerja berkelompok juga menunjukkan keraguan terhadap potensi keberagaman. Berfokus pada ranah organisasi, Manix dan Neala dalam bukunya What difference make a difference (dikutip dalam Robbins dan Judge, 2009) mengemukakan bahwa, “Studi-studi tentang keberagaman dalam kelompok-kelompok selama 50 tahun terakhir menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan kategori sosial di tingkat permukaan seperti etnisitas, jender dan usia cenderung…memiliki efek-efek negatif pada kinerja kelompok-kelompok itu.” Di sisi lain, menurut Robbins dan Judge (2009), hanya terdapat sedikit bukti bahwa kelompok-kelompok yang beragam akhirnya berkinerja lebih baik.

 

Bila ternyata keberagaman itu membawa kemunduran, apakah kita masih bisa mempercayai kemaslahatan dari keberagaman? Apakah ide keberagaman seperti Bhineka Tunggal Ika itu mesti diyakini?

 

Kerja eksperimental

Pada titik inilah tulisan ini menawarkan idenya. Menurut hemat penulis, keberagaman itu bukan masalah kepercayaan ataupun keyakinan, apalagi keyakinan dengan berkacamata kuda atau yang membabi buta. Keberagaman itu kerja eksperimental yang dilandasi kesadaran bahwa keragamaan sebagai realitas yang ada di sekitar kita (existing reality) dan sekaligus, percaya bahwa kesepahaman (mutual understanding) itu sangat dimungkinkan terjadi di antara kita yang beragam.

 

Konsekuensinya, mengajarkan ide keberagaman tidak bisa dilakukan dengan selayaknya mengajarkan ajaran agama (yang umum diajarkan sebagai keyakinan yang mesti diterima sebagaimana adanya dan tanpa keraguan). Karenanya, ceramah di sana sini bahwa Bhineka Tunggal Ika itu warisan leluhur yang mujarap, menurut pandangan penunlis, adalah kesia-siaan belaka. 

 

Karena merupakan kerja eksperimental, keberagaman harus menjadi semacam life skill (keterampilan hidup) yang mesti dimiliki warga untuk hidup di negeri ini. Keterampilan inilah yang kemudian perlu diaplikasikan warga dengan cara dan sistematika masing-masing.

 

 

 

Komunikasi

Satu keterampilan dasar yang mesti dikuasai adalah keterampilan berkomunikasi. Namun, komunikasi di sini bukan hanya perkara menyampaikan pendapat. Yang tidak kalah penting, khususnya dalam rangka mengembangkan kesepahaman (mutual understanding) dalam keberagaman, adalah kemampuan mendengarkan. Terbatas pada kemampuan atau keberanian menyampaikan pendapat hanya akan menghasilkan proses divergensi yang dapat membuat jurang perbedaan semakin lebar.

 

Dalam fasilitasi komunikasi kelompok dikenal tiga tahapan penting, divergensi, kesepahaman (mutual understanding) dan akhirnya konvergensi (lihat Kerner, 2007). Tahap divergensi mensyaratkan individu atau kelompok untuk dapat menyampaikan gagasan atau pendapat dalam “bungkus” yang cenderung bisa diterima individu atau kelompok lain. Titik penerimaan menjadi penting sebab setelah itu terjadi kajian yang kritis. Kadangkala, komunikasi terbentur pada “bungkus” sehingga bahkan sebelum baik buruknya ide dikaji, ide sudah ditolak mentah-mentah.

 

Tahap mutual understanding mensyaratkan kemampuan untuk mendengarkan secara empatik. Mendengarkan di sini bukan berarti diam terpaku menerima pesan, tapi justru bertanya mendalami ide sambil berusaha menempatkan dirinya pada posisi orang lain. Jadi, dia berusaha melihat masalah dari kacamata dan juga, perasaan orang lain. Memahami alasan-alasan atau latar belakang munculnya sebuah ide adalah kritikal untuk memahami dan  menghargai pendirian yang berbeda.

 

Terakhir adalah tahap konvergensi di mana ide-ide dicoba dicari persamaan atau atau benang merah (dalam bahasa Inggris, benang biru atau blue thread) sehingga muncul gagasan yang dapat diterima semua pihak. Bila keberagaman menghasilkan semacam konsensus atau pendirian bersama, itu adalah berkah dari keberagaman. Namun, kalau pun hanya menghasilkan kemampuan semua pihak untuk saling memahami dan kemudian menghargai pendirian berbeda, rasanya itu pun sudah merupakan pencapaian luar biasa. (Risang Rimbatmaja, Fasilitator Lapangan Kecil, anggota IFN – Indonesia Facilitators’ Network).

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 125 + 3 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile