Fanatisme Fasilitator

02 Oktober 2014 - Posted by admin

Fanatisme Fasilitator

Fanatisme bukan hanya urusan agama, tapi juga dunia fasilitasi. Fanatisme fasilitator bisa dilihat dari keyakinannya terhadap satu pendekatan atau metodologi, yang membuatnya menutup pintu bagi pilihan-pilihan lain.

 

Ada fasilitator yang hanya percaya pada pendekatan negatif (membuat jijik/ menakuti/ mencela secara sosial), sehingga menutup mata pada pendekatan lain, seperti pendekatan positif (seperti yang dikandung dalam appreciative inquiry). Tapi, sebaliknya, ada juga fasilitator yang meyakini bahwa hanya pendekatan model appreciative inquiry yang bisa membawa perubahan positif. Sementara pendekatan lain, seperti problem solving. dianggap justru melahirkan masalah-masalah baru.

 

Ada juga fasilitator yang anti terhadap sentuhan atau bantuan pihak eksternal dan hanya membantu masyarakat mencari dan mengaduk-aduk potensi setempat. Ada pula fasilitator yang fokusnya hanya menjembatani kelompok dengan sumber daya eksternal, tanpa melihat kekuatan internal.

 

Fanatisme juga terlihat ketika seorang fasilitator terlalu kaku menerapakan proses dan teknik-teknik. Fasilitator fanatik mempraktikkan langkah satu-dua-tiga sesuai model yang dia yakini. Di luar atau modifikais dari langkah-langkah itu dia dianggapnya keliru.

 

Fanatik mungkin tidak salah, namun fasilitator yang fanatik melupakan satu prinsip penting, yakni fasilitator berhadapan dengan kelompok manusia yang memiliki latar belakang budaya, kebiasaan, norma, nilai, kepercayaan, atau keinginan yang beragam. Fasilitator tidak berhadapan mesin atau robot atau manusia yang dikekang otak dan perasaannya, sehingga pendekatan atau metodologi yang dipilih mestilah berorientasi pada kelompok yang difasilitasi.

 

Tentu saja, dari pihak si pembuat model atau metodologi akan selalu berjualan kecap: ini yang nomor #1! Sementara, yang lainnya, tidak efektif!

 

Tapi, kita mestilah ingat, bahwa pencipta model atau metodologi tentu punya kepentingan atas model atau metodologi ciptaannya. Model/ metodologi itu perlu diberi nama agar terbentuk suatu brand. Selanjutnya, brand yang diterima masyarakat (dalam konteks pembangunan sosial, ini artinya: diterima negara-negara miskin), akan berarti projek dan kita tentu tahu apa artinya projek. Semakin diterima, semakin banyak projeknya. Semakin banyak projeknya, semakin…..

 

Lapangan Kecil memandang fanatisme menutup peluang pembelajaran fasilitasi berbasis sumber daya, budaya, nilai, atau norma nusantara. Karenanya, selain mempelajari keberagaman teknik/ metodologi yang ada (tanpa fanatik pada satu teknik/ metodologi), kami lebih suka mempelajari esensi yang mendasarinya dan teknik-teknik generik. Dari sini, aplikasi akan tergantung dari karakteristik dan kondisi masing-masing kelompok. Metodologi pun bisa dikembangkan sendiri sesuai kondisi. Sekilas, ini terlihat memiliki kelemahan besar, yakni tidak adanya brand yang bisa “dijual”. Tapi, bagi kami, rasanya kok lebih menyenangkan bisa membantu kawan-kawan pembelajar fasilitasi menemukan model kreatif-nya sendiri, ketimbang memaksakan model/ metodologi tertentu. Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 136 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile