Ekologi Kelompok: Posisi duduk menentukan

03 Juni 2012 - Posted by admin

Ekologi Kelompok: Posisi duduk menentukan

Pada sebuah acara reuni SMP saya dan kawan-kawan berusaha keras mengingat-ingat nama kawan-kawan yang dulu duduk di baris paling depan, yang dengan berbagai alasan, tidak bisa hadir. Duh, sulitnya. Sampai acara berakhir, kami hanya bisa mengingat 2 dari 8 nama.

 

Lebih mudah mengingat kawan yang duduk berdekatan, seperti pasangan duduk kita, yang persis di samping, di depan ataupun di belakang.

 

Posisi duduk ternyata turut mempengaruhi memori orang. Tapi, tentu saja, pengaruhnya bersifat tidak langsung. Maksudnya, posisi duduk tidak langsung mempengaruhi memori. Mungkin, awalnya posisi duduk menentukan dengan siapa interaksi-interaksi terjadi, yang kemudian menentukan kedekatan, dan barulah memori.

 

Dalam kerja fasilitasi, posisi duduk masuk dalam bahasan ekologi kelompok (lebih luas lagi masuk bahasan aspek non-verbal). Merujuk Bergoon (1992), yang meminjam konsep E.T Hall (1982), ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yakni 1) fixed feature (seperti tembok, pintu, jendela), 2) semi-fixed (barang yang bisa berpindah seperti kursi, meja dll) dan yang terakhir, 3) informal space, yakni bagaimana kita menghadap dan berjarak dengan anggota/ partisipan lain. Nah, posisi duduk masuk dalam bahasan informal space.

 

Ahli-ahli menemukan bahwa informal space mempengaruhi tingkat partisipasi, kontrol, dominasi ataupun leadership. Semisal, posisi yang cenderung sentral ternyata memudahkan orang untuk berpartisipasi lebih banyak bahkan bisa menjadi dominan.

 

Lapangan Kecil sendiri biasanya mencermati informal space dalam kaitannya dengan kualitas dialog. Pada awalnya, sentralitas dilekatkan pada fasilitator. Posisi duduk diatur sehingga semua melihat fasilitator. Kedua, kami menghargai bahwa di awal individu-individu membutuhkan kenyamanan, karenanya orang-orang yang kenal biasanya duduk berdekatan atau berkelompok dengan yang dikenalnya, dan berjauhan dengan orang-orang lain yang tidak dikenal. Bila pertemuan diikuti orang-orang tidak saling mengenal, maka kursi ditata sedemikian rupa agar bisa menghargai privasi orang.

 

Akan tetapi, kenyamanan duduk tidak bisa dibiarkan terus. Bayangkan kita membuat pertemuan di kelurahan yang diikuti remaja-remaja dari sejumlah RW. Bila remaja-remaja itu dibiarkan terus menerus duduk di kelompok RW-nya masing-masing, dialog yang terjadi akan menyempit menjadi dialog antar-RW dan bukan antar-remaja. Bahayanya, jika antar-kelompok itu memiliki masalah (semisal, kecemburuan ataupun konflik terpendam), pandangan akan semakin mengeras dan sulit didialogkan, sementara, partisipasi individual menjadi terhalang.

 

Karena itu, begitu kenyamanan awal sudah didapat partisipan, kami kerap melakukan perubahan posisi untuk pembauran. Untuk membantu proses pengacakan posisi, sejumlah teknik permainan klasik bisa diterapkan (seperti permainan-permainan yang kami namakan perahu bergoyang, banjir-kebakaran, angin berhembus, berbaris tanpa suara dengan berbagai instruksi. Mungkin bukan nama aslinya). Bila sifatnya agak formal, teknik-teknik yang menghasilkan sub-group bisa diterapkan.

 

Dalam konteks sekolah, kami membayangkan bila guru-guru secara teratur mengacak posisi duduk murid di kelas, mungkin murid bisa berinteraksi secara lebih luas. Prasangka, seperti yang duduk di depan ga asyik karena anak belajar atau yang duduk di belakang itu preman, bisa hilang. Diganti temuan-temuan baru pada diri kawannya, wah ternyata si A asyik juga orangnya. Saya kira sombong.

 

Dan menjaga memori selepas sekolah? Teorinya sih mengatakan posisi mempengaruhi interaksi yang membuat kita lebih dekat dan kemudian, lebih hapal. Tapi, entahlah, kelihatannya faktor usia juga ikut bermain. Risang Rimbatmaja

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 165 + 3 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile