Bukan Sekedar Ngomong

03 Juni 2012 - Posted by admin

Bukan Sekedar Ngomong

Seorang fasilitator pernah berkeluh kesah pada kami, “Masyarakat sekarang susah. Kalau kita hanya ngomong doang, tanpa ada bantuan nyata, program tidak akan jalan,” ujarnya. Yang dimaksudnya dengan bantuan nyata di sini adalah material atau bahan dan peralatan untuk konstruksi. Jadi, kalau mau bangun jalan, dianggapnya fasilitator mesti membawa bahan seperti pasir, batu kerikil atau aspal.

 

Anggapan seperti itu mungkin saja betul atau mungkin salah. Tapi, yang jelas, “ngomong” bukan sesuatu yang tidak berarti. Dalam pandangan konstruktivis, “ngomong” sudah merupakan bagian dari aksi sosial (social action). Bahkan, tanpa “ngomong”, tidak mungkin ada aksi sosial.

 

Banyak peristiwa-peristiwa besar di Indonesia yang terjadi karena ngomong. Proklamasi berawal dari diskusi-diskusi kecil tokoh-tokoh pemuda Indonesia pada jaman itu. Peristiwa sumpah pemuda juga sebetulnya merupakan “omongan”.

 

Jangan pernah mengecilkan “ngomong-ngomong”.

 

Kalau masyarakat menganggap fasilitator itu ngomong doang, mungkin itu betul, terutama kalau yang ngomong hanya sang fasilitator saja. Wacana didominasi oleh fasilitator dan dia tidak memberi ruang bagi masyarakat, kecuali ruang konfirmasi: Apakah ibu/ bapak setuju? Setuju? Ada yang keberatan?

 

Kalau fasilitatornya ngomong doang tapi tidak memberi warga untuk ikut membangun omongan, maka tak heran bila tidak terjadi aksi sosial. Yang terjadi ada aksi fasilitator (fasilitatornya ngomong terus dan mendominasi), tapi tidak ada omongan bersama. Akibatnya, tenaga fasilitator terkuras, sementara di sisi masyarakat yang mendengarkan dengan terpaksa (atau pura-pura mendengarkan), yang muncul adalah kekesalan.

 

Manusia itu bukan robot. Omongan bagi manusia bukanlah sekedar instruksi atau kepatuhan dari represi. Omongan itu wadah untuk ber-ekspresi dan menghadirkan diri sebagai warga. Bila omongan bersama tidak dibentuk, maka sulit untuk memunculkan perasaan memiliki, tanggung jawab, atau partisipasi.

 

Saat ini jaman sudah berubah. Omongan yang otoriter, seperti di era orde baru, tidak berlaku lagi. Warga semakin otonom di mana keputusan ada di tangan mereka masing-masing. Karenanya, bangunlah omongan bersama. Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 150 + 1 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile