Mentor, Pelatih, Fasilitator… Apa Bedanya?

03 Juni 2012 - Posted by admin

Mentor, Pelatih, Fasilitator… Apa Bedanya?

Orang sering bertanya, apa bedanya fasilitasi dengan training, mentoring, atau coaching?

 

Dalam praktikmya, metode-metode itu sudah saling tumpang tindih karena masing-masing telah belajar dari sesamanya dan saling tukar menukar teknik-teknik. Seorang fasilitator terkadang memanfaatkan teknik coaching pada suatu kesempatan dan demikian pula sebaliknya. Namun, di antara mereka tentu ada perbedaan-perbedaan yang sifatnya mendasar. Berikut adalah deskripsi yang mungkin dapat membantu Anda membedakan peran-peran itu.

 

Mentoring

Menjadi penasihat atau guru yang sangat dipercaya, khususnya di seputar topik yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang. Kerjanya cenderung one on one. Mentor cenderung mengajarkan hal-hal yang sebelumnya sudah mereka berhasil capai.

 

Teaching

Menyampaikan pengetahuan atau keterampilan; menyediakan pengetahuan; menyiapkan kondisi untuk aksi atau sikap tertentu.

 

Training

Melatih orang tentang suatu subjek, karenanya mereka harus ahli di subjek itu. Mereka menangani isi (keahlian/subjek yang dilatih) dan juga proses melatihnya.

 

Coaching

Biasanya berbasis hubungan one-on-one di mana coach membantu klien untuk fokus dan mencapai tujuan-tujuannya lebih cepat dari pada klien berusaha sendirian. Coach adalah orang yang ahli dalam memfasilitasi pencapaian tujuan atau proses perkembangan diri klien, namun dia tidak perlu ahli benar dalam topik yang di-coach-nya. Coach biasanya membantu klien dengan menyediakan tools dan hal-hal yang dapat memotivasi dan membantu pencapaian.

 

Counseling

Mirip dengan coaching, tapi yang menjadi fokus utama bukanlah peningkatan keterampilan klien, namun lebih ke kemauan (motivasi/ mental/ sikap).

 

Facilitating

Fasilitator fokus pada pengembangan dan pengelolaan proses yang efektif yang membantu kelompok mencapai hasil yang mereka kehendaki. Fasilitator yang ahli kadang sama sekali tidak mengenal subjek/ isu yang menjadi pekerjaan kelompok yang difasilitasi, namun berhasil memfasilitasi kelompok mencapai tujuannya.

 

Risang R. Sebagian diambil dari Steve Davis – Becoming a Learning Facilitator (2004)

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 185 + 7 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile