Dari Kelompok Menuju Tim

03 Juni 2012 - Posted by admin

Dari Kelompok Menuju Tim

Kelompok (group) dan tim (team) adalah dua hal yang berbeda. Keduanya memang sama-sama kumpulan orang, namun karakteristiknya berbeda. Kelompok (group) adalah kumpulan orang dengan persamaan-persamaan tertentu, misalnya lokasi (asal kampung, tempat tinggal, tempat bermain dll), pekerjaan/ profesi (kelompok dokter yang di RS tertentu, pekerja perempuan di sebuah pabrik dll), dan lain-lain. Sementara, tim (team) memiliki persamaan yang lebih mendalam. Mereka memiliki visi dan misi bersama (shared vision and mission) dan tujuan bersama (common goal).

 

Mereka yang memiliki persamaan geografis (misalnya, berasal dari kampung yang sama), bisa membentuk kelompok (group) ataupun tim (team). Kalau kegiatan mereka hanya kumpul-kumpul dan arisan di Jakarta, mereka cenderung disebut kelompok. Namun, bila mereka memiliki mimpi bersama (shared vision), misalnya meningkatkan akses pendidikan tinggi di Jakarta bagi anak-anak kampung mereka, dan meski dengan paruh waktu, mereka bekerja serius untuk mewujudkannya, misalnya dengan menyisihkan dana hasil kerja, mencari dan memberi informasi pendidikan tinggi pada anak-anak kampung mereka, dan mereka pun terorganisir, misalnya ada ketua dan bendahara, maka mereka dapat dikatakan telah membentuk tim (team).

 

Adalah mimpi setiap fasilitator untuk memfasilitasi sebuah kelompok menjadi tim yang dapat bekerja secara efektif. Namun, untuk memfasilitasi mereka, fasilitator harus paham pada fase manakah kelompok/ tim itu?

 

Lacoursiere (1980) yang dikutip Hart dalam bukunya Faultless Facilitation (1996) menyebutkan ada empat fase penting, yakni 1) forming (pembentukan), 2) storming (kemarahan), 3) norming dan 4) performing. Digarisbawahi oleh Hart, keempat fase ini tidak maju terus sifatnya. Sebuah tim yang ada di fase keempat sekalipun, bisa jatuh kembali ke fase kedua bila terjadi salah kelola.

 

Dalam fase forming, seorang fasilitator bisa memfasilitasi proses saling mengenal secara lebih mendalam, pengembangan visi dan misi, pembentukan peran, pencarian sumber-sumber daya maupun pembelajaran keterampilan baru. Di tahap ini, fasilitator pun dapat membantu proses pembelajaran dan persiapan yang lebih matang serta mencegah kelompok terburu-buru mencari dan menerapkan solusi yang nantinya dikhawatirkan dapat tidak efektif. Selain itu, ia pun dapat membantu kelompok memfokuskan diskusi-diskusi yang umumnya terlalu kemana-mana dan abstrak. Karena, anggota masih baru, fasilitator ada baiknya membantu kelompok mendiskusikan perilaku-perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima sehingga interaksi antar mereka ke depan dapat berjalan lebih mulus.

 

Ketika mulai bekerja, kelompok pada umumnya akan masuk ke tahap kedua atau storming. Di sini kelompok sudah mulai menemui masalah, halangan atau tanjakan dalam upaya mencapai mimpi mereka. Masalahnya bisa berada di luar kelompok (kompetisi, intervensi pihak luar, dll) ataupun di dalam kelompok (pertengkaran antar sesama, kompetisi internal yang tidak produktif, dominasi sebagian anggota, dll). Sebagian dari anggota kelompok mungkin juga mengalami penurunan motivasi kerja. Dalam tahap ini, fasilitator dapat memainkan perannya sebagai mediator konflik, fasilitator untuk pengembangan partisipasi anggota yang lebih merata, motivator, fasilitator untuk mentransformasikan hubungan yang terlalu competitive ke yang lebih cooperative, ataupun pengingat kelompok pada visi dan misi mereka.

 

Dalam fase norming konflik internal sudah diselesaikan dan interaksi anggota sudah berjalan mulus, anggota pun telah fokus pada tujuan bersama, dan bekerja dengan penuh komitmen. Namun, banyak kelompok lupa merayakan (celebrate) pencapaian-pencapaian mereka, terus menerus bekerja, dan kemudian terjebak kejenuhan. Dalam fase ini fasilitator dapat memfasilitasi kelompok untuk merayakan hasil capaian-capaian mereka. Dalam banyak kasus di mana kelompok dipimpin oleh seorang ketua, ada baiknya fasilitator menasehati ketua untuk me-renegosiasi kontrol/ kuasa yang dia punya agar anggota memiliki tanggung jawab lebih.

 

Ketika tim bekerja secara kompak dan efektif, memiliki trust yang tinggi di antara sesama anggota, mereka tahu dan dapat mengaplikasikan metode-metode problem-solving, dan mencapai target-target kelompok secara on time, maka dapat dikatakan tim masuk dalam fase performing. Pada fase ini, sebagian anggota juga menunjukkan kemampuan sebagai kemampuan kepemimpinan atau fasilitasi kelompoknya sendiri. Pada fase ini, fasilitator harus mengurangi perannya. Perlahan-lahan mundur atau bahkan menjadi anggota biasa adalah jalan yang bisa ditempuh.

 

Seperti dijelaskan di awal, fase-fase di atas tidak bersifat maju terus. Ada kalanya dari fase kedua, kelompok jatuh ke fase pertama ataupun tahap nol alias bubar sama sekali. Kelompok yang berada di fase empat pun bukan tidak mungkin jatuh ke fase kedua. Namun, seorang fasilitator tidak akan pernah bermimpi melihat kelompok yang difasilitasinya mundur. Semua fasilitator bermimpi kelompok maju menjadi tim yang kuat dengan kesadaran, sumber daya dan partisipasi anggotanya sendiri. Risang Rimbatmaja

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 172 + 4 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile