Proses perencanaan bukan hanya (kecerdasan) kognitif

26 Juni 2018 - Posted by admin

Proses perencanaan bukan hanya (kecerdasan) kognitif

Proses perencanaan partisipatif acapkali dipahami hanya dari aspek olah pikir (kognitif). Ide-ide briliyan dikumpulkan dari semua partisipan, dipahami bersama, dianalisis kemudian dipilih atau dikerucutkan. Hasilnya sebuah dokumen rencana atau bagi yang melangkah lebih lanjut, sebuah rencana aksi. Asumsinya, semakin cerdas partisipan, semakin hebat rencananya.

Padahal, rencana tinggal rencana bila tidak diwujudkan bersama oleh para pembuatnya.

Bila proses perencanaan diwarnai keterasingan (sebagian partisipan tidak saling mengenal), sulit berharap muncul ikatan komitmen yang kuat untuk menjalankan rencana bersama. Apalagi bila prosesnya diwarnai konflik dan diakhiri dengan “kemenangan” yang paling kuat atau mayoritas. Potensi konflik ke depan sulit dihindari.

Karena itulah, olah pikir hanyalah satu aspek dalam proses perencanaan partisipatif. Aspek lainnya yang tidak kalah penting adalah pengembangan hubungan dan emosi.

Proses perencanaan perlu mengembangkan kualitas hubungan antarpartisipan. Bila belum saling mengenal dengan baik, proses perencanaan harus memberi ruang interaksi agar partisipan saling mengenal, memahami perbedaan dan persamaan, sampai muncul rasa saling percaya. Bila berpotensi untuk konflik, proses perencanaan harus mencari cara merubah enerji konflik menjadi kompetisi yang sehat. Bila muncul konflik, kegiatan perencanaan juga mesti menjadi proses resolusi konflik.

Dari perspektif pengembangan hubungan (relations), luaran yang produktif dari proses perencanaan adalah kebersamaan dan rasa memiliki yang lebih kuat. Rencana yang sempurna, tanpa kebersamaan dan rasa memiliki di antara penyusunnya, sulit direalisasikan. Rencana yang tidak sempurna, namun dengan kebersamaan dan rasa memiliki yang kuat dari penyusunnya, lebih mungkin dijalankan dan perbaikan lebih mudah dilakukan kedepannya.

Aspek yang tidak kalah penting adalah emosi. Maksudnya, proses perencanaan harus menyentuh hati atau emosi para penyusunnya. Ada perasaan senang, gembira, optimisme, pengharapan, pengorbanan, semangat untuk mewujudkan, atau khawatir bila tidak dijalankan. Perasaan-perasaan itulah yang kemudian menjadi sumber motivasi untuk menjalankan rencana yang dihasilkan.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 160 + 2 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile