Gizi Seimbang, seimbang antara apa dan apa?

23 Februari 2018 - Posted by admin

Gizi Seimbang, seimbang antara apa dan apa?

Gagasan Gizi Seimbang telah dikampanyekan lebih dari 1 dekade. Namun, sejauh ini, belum banyak yang memahaminya. Di mana-mana, orang masih menyebut 4 sehat 5 sempurna sebagai rujukan. Padahal, gagasan itu dipandang usang para ahli gizi, karena 1) tidak mencerminkan perlunya keanekaragaman makanan dan porsi-porsinya,  dan) peran susu yang terlalu dilebih-lebihkan.

Sebagian ahli gizi yang saya temui mengeluhkan kurangnya kampanye yang mendukung. Sebagian lain mengakui betapa menariknya istilah 4 sehat 5 sempurna dibandingkan Gizi Seimbang.

Terlepas dari besar kecilnya dukungan kampanye untuk merinci gagasan Gizi Seimbang atau betapa catchy moto 4 sehat 5 sempurna, yang perlu dilakukan terlebih dahulu sebetulnya adalah “kembali ke warga”, sebagai penerima  pesan. Karena, pada akhirnya, mereka yang menentukan pemahaman mereka sendiri atas istilah itu.

Untuk itu memang perlu riset yang cukup serius. Namun, secara anecdotal, hasil ngobrol-ngobrol sambil lalu dengan sejumlah orang, tampaknya ada pemahaman yang berbeda antara warga dan ahli gizi tentang istilah seimbang.

Istilah Gizi Seimbang merupakan terjemahan dari balanced diet,  dan seimbang di sini merujuk pada kondisi di mana sejumlah hal (bahan-bahan makanan) yang porsinya sesuai kebutuhan tubuh. Artinya, tidak ada satu atau beberapa bahan yang berlebihan atau mendominasi (dengan patokan, kebutuhan tubuh).

Tampaknya, di sini letak salah satu masalahnya. Bagi penutur Inggris, istilah balance bisa merujuk pada keseimbangan akan beragam hal sehingga masuk akal untuk menyeimbangkan beragam bahan makanan.

Bagi kita kebanyakan, istilah seimbang hanya merujuk pada dua sisi. Kiri – kanan, depan – belakang, atas – bawah, lembut – keras, materi – spiritual, urusan rumah – pekerjaan, dunia – akhirat, fisik – psikis, pribadi – umum dan lain sebagainya.

Seimbang memang diartikan tidak condong ke satu sisi, namun karena orang kita hanya berbicara tentang dua sisi saja, maka pertanyaannya menjadi, seimbang antara apa dan apa? Makan dan minum? Bahan putih dan berwarna? Nasi dan lauk pauk?

Jangan-jangan, menempelkan istilah seimbang pada gizi menjadi tidak masuk akal. Bukan karena tidak mampu menangkap atau mencerna, tapi orang sudah memiliki makna tersendiri. Dan makna itu sudah ada jauh lebih awal.

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

 

 

 

Komentar

Lapangan Kecil, 24 Februari 2018 15:13:13
Betul-betul, mas Manji....kan yang mau mempraktikan warga ya he he he..
Manjilala, 23 Februari 2018 09:04:08
Artikel yg menarik hehehe... Perlu definisi operasional versi warga 😊😉
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 125 + 7 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile