Merubah perilaku tidak hanya menyuruh

21 Februari 2018 - Posted by admin

Merubah perilaku tidak hanya menyuruh

 

Bukan sekali dua kali saya menemukan spanduk kesehatan yang mengajak tanpa “menawarkan manfaat”. Ayo! Lakukan perilaku hidup bersih dan sehat sekarang juga! (Pakai tanda seru dua kali). Saat melintasi satu Puskesmas, terbentang spanduk: Ayo temukan bercak !!! (Tanda serunya tiga kali).

Di jaman otoriter, seperti Orde Baru, gaya menyuruh mungkin bisa efektif. Tapi, kini suasana komunikasinya berbeda. Birokrasi saja, seperti pemerintah daerah memiliki otonomi dan karenanya, tidak bisa main suruh. Apalagi masyarakat.

Pesan mesti lebih dari sekedar menyuruh atau mengajak. Dalam kata-kata praktisi komunikasi di belahan Amerika sana, yang terkesan agak kasar,  Wifi FM, what’s in it for me. Buat gua apa? Atau dalam bahasa satir, wani piro? Atau dalam bahasa akademis, harus ada appeal-nya atau source of motivation-nya.

Jadi, dalam rumusan yang paling sederhana, ada dua komponen dalam pesan. Pertama, perilaku yang ingin diubah. Kedua, tawaran manfaat, appeal, atau source of motivation-nya.

Komponen pertama menjawab kebutuhan program atau komunikator-nya. Komponen kedua, menjawab kebutuhan khalayak.

Semisal, komunikator menghendaki ibu-ibu menyusui bayinya secara eksklusif. Berikutnya, tinggal dicarikan, apa kira-kira yang bisa memotivasi mereka. Apakah…?

·  Supaya bayi lebih kebal terhadap penyakit

·  Ekonomis

·  Menguatkan ikatan bathin

·  Supaya anaknya kelak patuh pada orang tua

·  Karunia Tuhan

·  Atau apa?

Rumusan pesannya mungkin bisa se-naif, berikan ASI saja agar kelak anaknya patuh dan sayang pada orang tua atau bisa dalam bentuk non-verbal (lisan/ tulisan). Semisal, dengan imej yang mendukung dll.

Mencari mana appeal atau sumber motivasi yang paling efektif adalah pekerjaan praktisi komunikasi yang paling berat. Dan di sini pentingnya riset dan insting. Tidak selalu harus yang paling benar atau akurat, tapi yang penting, paling menjawab kebutuhan khalayak atau paling “menyentuh”. Contoh klasik yang sering dikutip, kosmetik dibuat dari berbagai bahan kimia. Tapi di mall, SPG kosmetik tidak membahas bahan kimia, tapi justru kecantikan yang diperoleh.

Tantangan lain adalah sifatnya yang dinamis dan kompetitif. Khalayak yang berubah dari waktu ke waktu (khalayak kan tentu mengalami perubahan pengetahuan, sikap dll) menuntut sumber motivasi perlu selalu dipantau, direview dan diperbaharui atau bahkan diganti yang baru. Repotnya, tidak jarang ada kompetisi. Komunikator bisa saling berebut agenda (prioritas), menentukan mana yang paling penting. Namun tidak jarang berhadap-hadapan, saling mengalahkan – langsung ataupun tidak langsung. Sekedar contoh saja, produsen rokok menawarkan kejantanan, kebebasan, atau ada juga yang menekankan persahabatan. Di pihak yang bersebrangan, praktisi antirokok menawarkan kesehatan atau kematian (dan tampaknya appeal itu tidak pernah berubah sepanjang waktu). Hasilnya, sampai saat ini, kita tahu mana yang masih dominan.

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 166 + 6 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile