Agar tidak memicu self-censorship

02 Januari 2018 - Posted by admin

Agar tidak memicu self-censorship

Sederhananya, Self-Censorship (disingkat SC) adalah tidak mengatakan apa yang sebetulnya dipikirkan. Atau dalam bentuk ekstrim, tidak mengatakan apapun.

Siswa melakukan SC ketika merasa lingkungannya tidak nyaman. Semisal, saat berpendapat, kawan-kawan di kelas mengejek atau bentuk lain yang tidak kalah menekan, tidak menganggap penting.

Sekali mengalaminya atau melihat kawan lain mengalaminya, siswa terdorong melakukan SC. Dia akan menahan atau memotong ide-ide yang dipikirnya kontroversial dan menyesuaikan dengan apa yang dipikirnya dapat diterima kawan-kawannya di kelas. Padahal, ide yang terpotong bisa saja ide yang brilian dan inovatif. Lama kelamaan, karena selalu “menyesuaikan”, kelas menjadi kurang terbiasa berpikir kreatif.

SC tentu tidak boleh dihilangkan sama sekali. Orang harus berpendapat dengan koridor norma sosial yang berlaku. Kalau tidak, bisa runyam.

Yang dihindari adalah siswa memotong sendiri ide-ide karena takut atau khawatir mendapat respon negatif.

Sebagai fasilitator, guru tentu tidak menghendaki siswanya melakukan SC. Karenanya, guru berusaha memberi tanggapan positif atas jawaban atau pertanyaan siswa. Guru tidak merespon negatif, semisal dengan kata-kata kasar, seperti: ah, jawaban bodoh itu!

Kata-kata kasar mungkin sudah tidak umum lagi, namun tanpa sengaja, kadang keluar respon yang terdengar biasa sebetulnya bisa terasa kurang nyaman bagi siswa. Dan itu kemudian bisa memicu SC.

Yang dimaksud adalah tanggapan yang mengimplisitkan jawaban atau pertanyaan siswa tidak diharapkan, karena kurang berarti, kurang relevan/sesuai atau kurang akurat. Berikut contohnya.

Tidak berarti
[Jawabanmu] itu kan tadi sudah [disampaikan siswa lain].
Jawabanmu sama saja dengan Budi.
Ayo disingkat saja ceritanya!

Tidak relevan/ sesuai
Apa hubungannya dengan pertanyaan Bapak?
Coba dengarkan, [Mengulang pertanyaan]

Tidak akurat
Masih salah! Belum betul!
Coba pikirkan lagi!
Siapa yang bisa jawab yang betul?

Agar tidak memicu SC, guru bisa melakukan paraphrase sekaligus menunjukkan guru mendengarkan dengan seksama dan menghargai siswa.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 173 + 8 =

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :



Versi Mobile