Refleksi & Riset

Lembaga pendidikan dorong perilaku non-asertif?

26 Maret 2018 - Posted by admin
Lembaga pendidikan dorong perilaku non-asertif? Lembaga pendidikan cenderung menguatkan perilaku non-asertif. Demikian disampaikan buku the 5 essential people skills (DCT, 2009). Pernyataan itu bisa mengagetkan orang. Tapi, sebelum lebih jauh, ada baiknya kita pelajari apa yang dimaksud buku itu sebagai perilaku yang asertif. Asertif dipahami sebagai perilaku yang tidak pasif, tidak juga agresif. Saat menjumpai masalah, orang yang asertif menyampaikannya dengan cara yang secara alamiah ...selengkapnya »

Pesimis atau optimis?

05 Maret 2018 - Posted by admin
Pesimis atau optimis? Sikap pesimis atau optimis lebih mudah diketahui saat kita menghadapi kegagalan. Perhatikan tanggapan yang terlontar atau untuk melihat sikap kita sendiri, perhatikan self-talk atau komunikasi dalam diri (intrapersonal) yang berkembang. Dari banyak aspek, ada dua aspek yang mudah dikenali, yaitu 1) apakah sifatnya cenderung temporer (sementara) atau permanen (cenderung kekal)?; dan 2) seberapa spesifik dan pervasive (merambah ke mana-mana, ...selengkapnya »

Kesamaan untuk memotivasi

28 Februari 2018 - Posted by admin
Kesamaan untuk memotivasi Memotivasi dengan menggunakan tokoh sukses adalah salah satu cara yang acapkali dilakukan pendamping atau guru fasilitator. Penekanannya adalah pada struggle atau perjuangan yang dilalui tokoh. “Seribu kali dia mencoba dan akhirnya berhasil pada percobaan yang ke seribu satu! Coba kalau dia menyerah di usaha yang ke 1000, tidak mungkin dia sukses seperti itu!” Yang ingin digaris bawahi adalah upaya yang pantang menyerah. Harapannya, ...selengkapnya »

Cita-cita yang memotivasi

24 Februari 2018 - Posted by admin
Cita-cita yang memotivasi Untuk memotivasi anak didik, guru fasilitator kadang memulai dengan sesi menguak dream, tentang apa cita-cita mereka kelak. Biasanya, anak-anak didik akan menyebut beragam cita-cita. Ada yang ingin jadi dokter, polisi, tentara dan lainnnya.   Harapannya, pengungkapan cita-cita, yang disertai apresiasi guru, bisa menjadi sumber motivasi. Tapi pengungkapan cita-cita tidaklah cukup. Agar menjadi sumber motivasi yang awet, pengenalan ...selengkapnya »

Gizi Seimbang, seimbang antara apa dan apa?

23 Februari 2018 - Posted by admin
Gizi Seimbang, seimbang antara apa dan apa? Gagasan Gizi Seimbang telah dikampanyekan lebih dari 1 dekade. Namun, sejauh ini, belum banyak yang memahaminya. Di mana-mana, orang masih menyebut 4 sehat 5 sempurna sebagai rujukan. Padahal, gagasan itu dipandang usang para ahli gizi, karena 1) tidak mencerminkan perlunya keanekaragaman makanan dan porsi-porsinya,  dan) peran susu yang terlalu dilebih-lebihkan. Sebagian ahli gizi yang saya temui mengeluhkan kurangnya kampanye yang ...selengkapnya »

Merubah perilaku tidak hanya menyuruh

21 Februari 2018 - Posted by admin
Merubah perilaku tidak hanya menyuruh   Bukan sekali dua kali saya menemukan spanduk kesehatan yang mengajak tanpa “menawarkan manfaat”. Ayo! Lakukan perilaku hidup bersih dan sehat sekarang juga! (Pakai tanda seru dua kali). Saat melintasi satu Puskesmas, terbentang spanduk: Ayo temukan bercak !!! (Tanda serunya tiga kali). Di jaman otoriter, seperti Orde Baru, gaya menyuruh mungkin bisa efektif. Tapi, kini suasana komunikasinya berbeda. Birokrasi saja, seperti ...selengkapnya »

Agar tidak memicu self-censorship

02 Januari 2018 - Posted by admin
Agar tidak memicu self-censorship Sederhananya, Self-Censorship (disingkat SC) adalah tidak mengatakan apa yang sebetulnya dipikirkan. Atau dalam bentuk ekstrim, tidak mengatakan apapun. Siswa melakukan SC ketika merasa lingkungannya tidak nyaman. Semisal, saat berpendapat, kawan-kawan di kelas mengejek atau bentuk lain yang tidak kalah menekan, tidak menganggap penting. Sekali mengalaminya atau melihat kawan lain mengalaminya, siswa terdorong melakukan SC. Dia akan menahan ...selengkapnya »

Beda kelas yang partisipatif dengan kovensional – bagian 2

20 Desember 2017 - Posted by admin
Beda kelas yang partisipatif dengan kovensional – bagian 2 Ciri kedua menurut Kaner (2007) merujuk pada sikap dan perilaku anggota kelas itu sendiri. Di kelas yang konvensional anggota sering menginterupsi satu sama lain. Sementara, di kelas yang partisipatif, anggota saling memberi ruang untuk berpikir dan menyampaikan pendapat. Biasanya, perilaku saling menginterupsi bersumber dari pemahaman kelas sebagai arena kompetisi semata. Karena itu, anggota kelas berlomba-lomba mengemukakan ide atau bahkan ...selengkapnya »

Beda kelas partisipatif dengan konvensional - bagian 1

16 Desember 2017 - Posted by admin
Beda kelas partisipatif dengan konvensional - bagian 1 Mengadopsi Kaner (2007), setidaknya ada 12 ciri yang membedakan kelas partisipatif dengan yang konvensional. Yang pertama, dalam kelas yang partisipatif, semua berbagi pendapat dan pengalaman. Di kelas konvensional, yang banyak bicara biasanya hanya yang vokal, yang biasanya berjumlah sedikit. Yang berpikir cepat dan lebih artikulatif-lah yang mendapat waktu bicara yang lebih banyak. Yang penakut, pemalu, pendiam, atau gugupan, lebih sering ...selengkapnya »

Sulitnya mendapat laporan dini tentang bullying

11 Agustus 2017 - Posted by admin
Sulitnya mendapat laporan dini tentang bullying Berita bullying seperti tak ada habisnya. Dan guru biasanya baru tahu setelah kejadian yang serius. Itu pun kerap kali via medsos. Mengapa korban atau saksi tidak melaporkan ke guru lebih dini, sejak mulai mengalami kekerasan? Orang dewasa cenderung menyalahkan anak, korban itu sendiri. Pikir kita, mestinya mereka lapor sehingga tidak jatuh korban. Tampaknya kita lupa bahwa komunikasi itu bukan urusan perkara melaporkan informasi, meski ...selengkapnya »

Versi Mobile