Melatih perasaan

26 Februari 2018 - Posted by admin
Melatih perasaan

Dalam sesi “latihan mental”, peserta yang bercerita betapa gugup atau cemasnya dia menghadapi kelompok selalu saya respon: Anda sudah bagus sekali!

Lho, kok gugup, cemas malah bagus sekali?

Alasannya, pertama peserta itu very human alias sangat manusiawi.  Mannusia memiliki perasaan. Tidak seperti batu, yang tidak berperasaan. 

Kalau kita bisa merasakan sesuatu, termasuk gugup dan cemas, maka saat itu  kita masih menjadi manusia.

Dan saat itu, ada semacam kepedulian. Peduli akan performa kita. Peduli hasilnya. Peduli orang lain. Peduli ke diri kita sendiri.

Yang dikhawatirkan adalah justru yang tidak “merasa” sama sekali. No feeling at all. Bekerja seperti robot. Begitu membaca poin-poin tujuan atau target, lalu langsung eksekusi begitu saja. Itu seperti orang yang terperangkap dalam rutinitas. Seolah-olah tidak menjumpai manusia. Hanya sekumpulan benda, yang kebetulan bernama: peserta pelatihan, siswa, orang tua siswa, dan lainnya.

Jadi memiliki rasa itu bagus sekali untuk memastikan kita adalah manusia.

Yang kedua, kalau kita merasa, maka kita tahu batas kekuatan perasaan kita. Dan ini artinya kita harus melatihnya?

Perasaan kok dilatih?

Bukannya kita justru harus menghindari hal-hal yang melukai perasaan kita? Yang membuat kita tidak tenang? Membuat kita emosi? Yang membuat kita marah? Sedih? Cemas? Gugup?

Mark Freeman (2017) dalam bukunya The Mind Work Out menulis kalimat-kalimat yang menarik. Katanya, kalau kamu menghindar dari berkeringat, maka semuanya akan membuatmu berkeringat. Kalau kamu menghindar dari rasa cemas, maka semuanya akan membuatmu cemas.

Tingkat kesehatan atau kekuatan mental, menurut dia, pada dasarnya adalah hasil latihan manusia. Prinsipnya sesederhana seperti latihan fisik. Kalau kita ingin otot kita kuat, maka kita harus latihan mengangkat beban berat. Awalnya, terasa berat atau pada batas tertentu, tidak sanggup. Tapi, batas itu secara bertahap bisa dilewati dan ditingkatkan kalau kita berlatih.

Kalau kita saat ini tidak bisa berlari 30 menit, maka dengan berlatih berlari, maka nanti kita bisa berlari 30 menit atau bahkan lebih lama. Kalau kita menghindari (latihan) berlari, mana mungkin kita bisa berlari 30 menit atau lebih.

Prinsipnya, melakukan hal-hal yang sulit akhirnya membuat hal-hal itu kemudian menjadi kurang sulit atau bahkan mudah. Sebaliknya, menghindari hal-hal sulit, justru membuat hal-hal itu lebih sulit.

Demikian juga dengan kerja seorang pendamping. Kalau kita menghindari kelas “yang mencemaskan”, mana mungkin kekuatan mental kita meningkat.

Masalahnya, tinggal bagaimana melatih mental. Mark Freeman memaparkan 20 langkah, tapi ada 1 langkah yang sangat menarik, yaitu rasakan tapi jangan ikuti, praktikkan saja yang tepat. Semisal, kita ingin memfasilitasi kelas yang “mencemaskan”. Maka, saat perasaan cemas muncul, rasakan saja. Tidak perlu dialihkan. Atau berusaha dihilangkan. Biarkan bergemuruh. Rasanya ingin kabur. Ingin pergi dan meninggalkan pesan, entah sakit atau anak sakit dll. Rasakan, tapi jangan ikuti. Sesaat kemudian, tetap langkahkan kaki ke kelas, tersenyum, dll. Dengan demikian, kita sudah mulai melatih mental.

Contoh lain, Anda sebetulnya memiliki komentar atau kritikan untuk tulisan ini. Tapi, kemudian merasa sungkan, tidak enakan, atau khawatir komentar yang Anda berikan akan menulai tanggapan yang negatif. Entah, orang lain tidak suka, penulis tersinggung atau lainnya. Rasakan saja dulu. Jangan dilawan atau dihilangkan. Tapi jangan ikuti apa kata perasaan, tuliskan saja komentar atau kritikan Anda. Terimakasih.

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

Share This Page


Tinggalkan Komentar

175 + 2 = ?

Artikel Teknik Lainnya :