Lembaga pendidikan dorong perilaku non-asertif?

26 Maret 2018 - Posted by admin
Lembaga pendidikan dorong perilaku non-asertif?

Lembaga pendidikan cenderung menguatkan perilaku non-asertif. Demikian disampaikan buku the 5 essential people skills (DCT, 2009). Pernyataan itu bisa mengagetkan orang. Tapi, sebelum lebih jauh, ada baiknya kita pelajari apa yang dimaksud buku itu sebagai perilaku yang asertif.

Asertif dipahami sebagai perilaku yang tidak pasif, tidak juga agresif. Saat menjumpai masalah, orang yang asertif menyampaikannya dengan cara yang secara alamiah membuat orang yang mendengarkan menanggapi secara penuh perhatian dan positif.

Jadi, orang asertif tidak diam atau dalam Bahasa Jawa , “nerimo” saat menjumpai masalah. Namun, juga tidak menyampaikan secara agresif yang membuat orang menjadi tersinggung bahkan marah.

Orang pasif adalah orang lemah, nurutan, dan tidak menghargai kepentingannya sendiri. Sementara, orang agresif hanya berpusat pada dirinya sendiri, kurang pengertian terhadap orang lain, kasar, bahkan arogan.

Asertif berada di tengah antara pasif dan agresif. Saat berkomunikasi, orang asertif  mengemukakan 3 komponen pesan, yaitu 1) ringkasan fakta, 2) pendapat dan/ atau perasaan terhadap fakta itu sendiri, dan 3) yang diinginkan/ dibutuhkan orang, termasuk manfaat bagi pihak lain.

Contohnya, bila seorang siswa ketabrak kakak kelas sehingga makanan --yang belum juga digigitnya-- jatuh ke tanah, maka dia bisa bersikap:

· Diam saja,ketakutan, tidak enak menyampaikan sesuatu pada kakak kelasnya

 

· “Kakak jahat!”/ “Kok tega sih!”/ “Sialan!”/ “Ganti, makananku. Saya ga mau tahu!”

 

·  “Kak, kakak menabrak tangan saya sehingga makanan saya jatuh ke tanah. Ini makan siang satu-satunya. Saya lapar dan tidak bawa uang. Boleh saya minta kakak mengganti makanan saya?

 

Yang pertama adalah sikap pasif. Yang kedua agresif dan yang ketiga asertif.

Nah, sekarang pertanyaannya betulkah lembaga pendidikan cenderung menguatkan yang non-asertif. Dengan kata lain, lebih menguatkan pasif atau agresif?

Sebagian orang mungkin setuju bila dikatakan bahwa sebagian lembaga pendidikan lebih menguatkan perilaku pasif. Ada kecenderungan memang siswa akan diam bila menjumpai masalah, baik dengan guru ataupun dengan rekan siswa lain, terutama bila masalah itu mereka anggap akan membuat guru atau rekan siswa lain marah bila diangkat. Mereka tidak mampu mengomunikasikannya secara asertif.

Di kelas pun ada kecenderungan siswa dilatih untuk mengikuti instruksi atau dengan kata lain, menjadi lebih penurut,

Kalau agresif?

Mana mungkin sekolah mengajarkan perilaku agresif?

Saya pernah menyampaikan hal ini pada rekan fasilitator senior, lembaga pendidikan kita tidak mungkin mengajarkan agresivitas. Secara materi, tidak ada. Secara etika, tidak didukung.

Tapi, rekan saya itu mengatakan kadang perilaku pasif dan agresif seperti dua sisi mata uang, yang muncul saat satu tidak bisa menampung beban.

Menjadi agresif setelah tidak kuat menanggung masalah  dengan berperilaku pasif? Menjadi agresif di luar sekolah setelah selalu pasif di dalam sekolah?

Teori yang menarik untuk menjelaskan agresivitas, terutama mungkn tawuran anak sekolah. Mungkin benar, mungkin salah. Mungkin namanya bukan teori, tapi baru sebatas hipotesis. Itu pun kurang kuat.

 

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

Share This Page


Tinggalkan Komentar

192 + 3 = ?

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :