Pesimis atau optimis?

05 Maret 2018 - Posted by admin
Pesimis atau optimis?

Sikap pesimis atau optimis lebih mudah diketahui saat kita menghadapi kegagalan. Perhatikan tanggapan yang terlontar atau untuk melihat sikap kita sendiri, perhatikan self-talk atau komunikasi dalam diri (intrapersonal) yang berkembang.

Dari banyak aspek, ada dua aspek yang mudah dikenali, yaitu 1) apakah sifatnya cenderung temporer (sementara) atau permanen (cenderung kekal)?; dan 2) seberapa spesifik dan pervasive (merambah ke mana-mana, serba mencakup)

“Saya tidak punya bakat”; “Saya memang pecundang”; “Bukan jalan saya”; “Takdir saya seperti ini saja” adalah contoh-contoh tanggapan yang cenderung permanen, melekat dan sulit diubah.

Contoh-contoh di atas bukan hanya permanen, namun juga pervasive karena yang dikemukakan sebetulnya bisa mempengaruhi  banyak hal lainnya. Kalau kasusnya adalah berdagang kambing dan orang itu mengatakan tidak punya bakat, maka kegagalan dalam berdagang kambing dapat mempengaruhi semangat dia berdagang produk atau jasa lainnya.

Tanggapan yang permanen dan pervasive adalah contoh pesimisme yang kuat.

Berbeda bila tanggapan yang muncul adalah “(Gagal) gara-gara telat sewa lahan”; “Begini ini (gagal) kalau tidak hati-hati memilih kasir”; “Belum bisa bagi waktu (akibatnya gagal”). Contoh-contoh itu adalah tanggapan yang temporer (karena bisa diperbaiki dalam waktu berikutnya) dan juga spesifik terkait masalah tertentu.

Bagi pendamping, tanggapan optimislah yang perlu dikembangkan pada diri dampingan. Dalam tanggapan yang optimis, ada harapan untuk memperbaiki keadaan. Tugas pendamping adalah bersama dampingan mendiskusikan lebih lanjut opsi-opsi untuk perbaikan isu-isu spesifik yang muncul (dari contoh di atas: jadwal kerja, seleksi  personel dan manajemen waktu.)

Yang menjadi tantangan adalah bila tanggapannya pesimistik. Pendamping mesti kerja ekstra, berdialog dengan dampingan untuk menemukan aspek-aspek yang bisa dikategorikan lebih temporer dan spesifik sifatnya.

Kerja harus benar-benar ekstra karena sebagian orang tidak jujur. Secara lisan mengatakan “Belum bisa bagi waktu (akibatnya gagal”), namun di dalam hati percaya bahwa “Saya tidak punya bakat”.

Padahal, self-talk jauh lebih kuat dan mengikat ketimbang lisan. Kalau pikiran dan hati sudah terikat pesimisme, orang sebetulnya sedang tidak berharap lagi. Saat gagal, terasa sulit bangkit kembali. Kalaupun masih ada nafas, usahanya setengah hati, seolah menunggu gagal total.

 

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

Share This Page


Tinggalkan Komentar

166 + 8 = ?

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :