Kesamaan untuk memotivasi

28 Februari 2018 - Posted by admin
Kesamaan untuk memotivasi

Memotivasi dengan menggunakan tokoh sukses adalah salah satu cara yang acapkali dilakukan pendamping atau guru fasilitator. Penekanannya adalah pada struggle atau perjuangan yang dilalui tokoh. “Seribu kali dia mencoba dan akhirnya berhasil pada percobaan yang ke seribu satu! Coba kalau dia menyerah di usaha yang ke 1000, tidak mungkin dia sukses seperti itu!”

Yang ingin digaris bawahi adalah upaya yang pantang menyerah. Harapannya, dampingan atau anak didik melihat bahwa kesuksesan itu adalah hasil jerih payah. Karena itu, mereka patut meniru semangat pantang menyerah dari si tokoh.

Saat mendengarkan cerita, dampingan atau anak didik mungkin diam, seperti menyimak. Namun, ada satu hal yang sebetulnya menentukan apakah cerita itu “nyangkut”, menyentuh hati mereka atau tidak. Dan hal itu kadang dilupakan pendamping, yaitu kesamaan atau similarity.

Tokoh itu seperti sayakah? Apa dia berangkat dengan kondisi yang sama?

Kalau pendamping tidak bisa menggambarkan aspek yang sama atau mirip, antara dampingan atau anak didik dengan tokoh sukses, maka ceritanya hanya sebatas konsumsi kognitif saja. Ceritanya masuk akal, menarik, tapi pelajarannya bukan untuk saya. Saya tidak dapat menirunya.

“Oh, pantes dia bisa sukses membuat aplikasi itu, orang tuanya professor komputer…!”

“Oh, wajar dia jadi pengusaha besar, oang tuanya pengusaha juga!”

Akhirnya, dampingan atau anak didik tidak termotivasi untuk meniru usaha keras tokoh itu.

Profil dari seorang tokoh tentu multi-aspek, maka itu, pendamping perlu menyoroti hal-hal yang sama atau mirip dengan dampingannya. Sama 100%, tidak mungkin, tapi 100% berbeda juga mustahil. Pasti ada satu atau beberapa yang sama atau mirip. Nah, itu yang perlu digambarkan atau diangkat.

“Dia anak seorang peternak bebek, jadi, pagi-pagi dia biasa memberi makan bebek….” (cerita pada siswa yang sebagian adalah anak peternak bebek).

“Waktu pertama orang ini menjual idenya, semua orang mentertawakannya, apalagi dia hanya tamat sekolah dasar” (cerita pada sebagian dampingan yang tidak bersekolah tinggi).

Begitu dampingan atau anak didik melihat ada yang sama atau mirip dengan tokoh yang diceritakan, maka  cerita tokoh sukses itu seolah menjadi bagian dari cerita dirinya sendiri. Cerita yang belum lengkap dan dia kemudian tahu, perlu kerja keras untuk melengkapinya.

 

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

Share This Page


Tinggalkan Komentar

126 + 6 = ?

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :