Beda kelas partisipatif dengan konvensional - bagian 1

16 Desember 2017 - Posted by admin
Beda kelas partisipatif dengan konvensional - bagian 1

Mengadopsi Kaner (2007), setidaknya ada 12 ciri yang membedakan kelas partisipatif dengan yang konvensional. Yang pertama, dalam kelas yang partisipatif, semua berbagi pendapat dan pengalaman.

Di kelas konvensional, yang banyak bicara biasanya hanya yang vokal, yang biasanya berjumlah sedikit. Yang berpikir cepat dan lebih artikulatif-lah yang mendapat waktu bicara yang lebih banyak. Yang penakut, pemalu, pendiam, atau gugupan, lebih sering diam.

Menjadi tugas guru fasilitator untuk membuat semua berpartisipasi. Dalam model kerja fasilitator Barat, kondisi ini dibangun dengan membagi kesempatan bagi semua untuk berbicara, seperti dengan mengapling-kaplingkan waktu, membuat urutan, memanfaatkan media tulis sebagai tiket bicara, seperti kartu metaplan dan lainnya.

Dalam konteks Indonesia, terutama masyarakat kebanyakan, pengalaman kami mengajarkan agar fasilitator tidak langsung mengapling-kaplingkan waktu,  namun mengambil beberapa langkah pendahuluan. Di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, membangun suasana nyaman berpendapat. Penyampaian ide kerap kali tidak maksimal bila suasana nyaman belum terbangun. Semisal, saat partisipan belum saling mengenal, maka besar kemungkinan mereka memiliki prasangka tertentu satu sama lain. Kalau seseorang memiliki prasangka di mana dia berpikir sejumlah orang akan merasa terhina dan marah bila dia menyampaikan pendapat tertentu, maka bila dia takut, dia akan menahan untuk tidak menyampaikan pendapat itu.

Kedua adalah membangun norma nonjudgmental, khususnya di tahap awal dialog. Maksudnya, partisipan harus merasa bahwa menyampaikan ide adalah kebebasan individual yang tidak akan mendapatkan respon negatif, seperti cibiran, sindiran atau bahkan kritikan sekalipun.

Ketiga adalah pemanasan. Kebanyakan orang Indonesia apalagi anak-anak, tidak terbiasa berbicara dalam forum. Karenanya, fasilitator harus memberikan waktu untuk partisipan membangun kepercayaan diri untuk bicara. Salah satu caranya adalah dengan memberi kesempatan partisipan berbicara hal-hal yang mudah dan menarik mereka sampaikan terlebih dahulu, sebelum menyampaikan gagasan yang lebih “berat”.

Di atas adalah pembahasan 1 ciri dari Kaner (2017), dengan rincian pengalaman versi Lapangan Kecil. Masih ada 11 ciri lagi yang akan dicicil dalam tulisan berikutnya.

Risang Rimbatmaja
www.lapangankecil.org

 

 

Share This Page


Tinggalkan Komentar

149 + 9 = ?

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :