Sulitnya mendapat laporan dini tentang bullying

11 Agustus 2017 - Posted by admin
Sulitnya mendapat laporan dini tentang bullying

Berita bullying seperti tak ada habisnya. Dan guru biasanya baru tahu setelah kejadian yang serius. Itu pun kerap kali via medsos.

Mengapa korban atau saksi tidak melaporkan ke guru lebih dini, sejak mulai mengalami kekerasan?

Orang dewasa cenderung menyalahkan anak, korban itu sendiri. Pikir kita, mestinya mereka lapor sehingga tidak jatuh korban.

Tampaknya kita lupa bahwa komunikasi itu bukan urusan perkara melaporkan informasi, meski penting atau genting. Tidak secara otomatis informasi penting itu dilaporkan. Setidaknya, sejumlah studi menunjukkan ternyata siswa enggan berbagi atau melapor pada gurunya tentang kasus bullying.

Landasan orang berkomunikasi adalah kepercayaan.

Siswa berpikir seribu kali sebelum melaporkan bullying yang dialami atau disaksikan.

Apakah guru bisa dipercaya tidak akan membocorkan pelapor? Apakah guru atau orang tua akan mengambil aksi yang sesuai alias tidak sekedar menampung saja? Apakah guru atau orang tua mau mendengarkan pelapor? Atau malah menyalahkan pelapor yang korban? Apakah justru pelapor justru akan semakin di-bully? Dan banyak lagi pertanyaan lainnya.

Juga, kepercayaan itu harus memiliki landasan historis. Siswa belajar dari pengalaman-pengalaman berinteraksi sebelumnya dengan guru, baik di kelas maupun di luar kelas.

Kalau selama ini siswa tidak didengarkan oleh gurunya, maka jangan harap siswa melaporkan atau menceritakan pengalaman bullying. Kalau selama ini guru bersikap kurang peduli pada “dunia siswa” dan hanya fokus penyampaian materi pelajaran, maka sulit berharap siswa akan menceritakan pengalaman bullying.

Celakanya, kelihatannya korban bullying itu siswa-siswa “pinggiran” di kelasnya. Bukan mereka yang sering berinteraksi dengan guru. Ini pengamatan sekilas dan di permukaan saja. Tentu perlu studi khusus untuk membuat profil yang akurat.

Dalam kajian komunikasi, urusan pelaporan bullying adalah wilayah relational communication, bukan instrumental communication. Maksudnya, urusan mau melapor atau tidak adalah perkara sejauhmana hubungan yang terbangun.

Kalau kepercayan terbangun, informasi dini mengenai bullying akan diceritakan siswa tanpa diminta, tanpa dikorek-korek.

Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

 

 

Share This Page


Tinggalkan Komentar

151 + 8 = ?

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :