Urusan bangku (lagi) dan interaksi siswa

09 Agustus 2017 - Posted by admin
Urusan bangku (lagi) dan interaksi siswa

Hari pertama sekolah selalu menjadi berita. Salah satunya, tentang anak yang datang subuh-subuh mencari bangku dengan posisi nyaman. Kalau kesiangan, sisa yang didapat.

Cerita keponakan saya tahun lalu kurang lebih sama. Dia datang terlambat. Tersisa bangku barisan belakang. Itu pun tidak sempurna. Senderannya tidak ada.

Kasusnya mungkin lebih banyak berlaku di sekolah negeri, termasuk yang favorit, atau swasta yang biasa-biasa saja. Tapi hak anak mestinya berlaku bagi semua anak.

Pendidikan berkualitas bukan hanya perkara materi pelajaran tapi juga bagaimana menciptakan suasana belajar yang nyaman.

Karena itu, dalam perspektif komunikasi, idealnya guru tidak hanya berkomunikasi untuk kepentingan tujuan pembelajaran, seperti meningkatkan pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu (instrumentalist communication), namun juga membangun hubungan emosional yang nyaman antarsiswa (relational communication).

Tidak sulit mencari studi yang mendukung hubungan antara suasana kelas yang nyaman dengan prestasi belajar siswa. Logika orang awam pun dapat menjustifikasi.

Dan tidak perlu investasi besar-besaran untuk membangun suasana kelas yang nyaman. Cukup dimulai dengan guru yang memfasilitasi interaksi antarsiswa.

Kembali ke kasus bangku. Mestinya, guru paham bahwa posisi duduk ikut menentukan interaksi.

Sewaktu kuliah, saya berteman dengan kawan SMA. Dulu satu kelas, tapi jarang mengobrol. Duduk kita berjauhan. Kawan saya duduk di barisan depan, banjar paling kanan. Persis di depan meja guru. Sementara, posisi saya di barisan agak belakang, banjar paling kiri.

Karena duduk berbeda, masing-masing mengembangkan prasangka sendiri. Saya pikir kawan saya itu terlalu serius belajar dan kaku. Sementara, saya sendiri dianggap kurang serius belajar dan agak urakan.

Saat berinteraksi di kampus, baru kami menyadari bahwa pransangka-prasangka itu keliru. Kawan saya itu ternyata asyik diajak ngobrol. Saya juga tidak seurakan yang dia bayangkan.

Semuanya bermula dari posisi duduk yang fix, tidak berubah selama setahun. Posisi ikut menentukan interaksi.

Bila guru peduli dengan hubungan baik antarsiswa (yang berkontribusi pada prestasi belajar), maka urusan posisi duduk perlu menjadi perhatian. Lakukan pengacakan atau rotasi secara berkala. Untuk itu. guru bisa melakukannya melalui beragam permainan menarik.

Kebaikan akan berpulang pada pelakunya. Jika guru membantu siswa untuk mengenal dan menemukan kebaikan-kebaikan pada diri kawan-kawannya, maka bergelombang-gelombang kebajikan akan mendatangi guru.  Risang Rimbatmaja www.lapangankecil.org

 

 

Share This Page


Tinggalkan Komentar

184 + 4 = ?

Artikel Refleksi & Riset Lainnya :