Kabar baik VIC Action

18 Juli 2012 - Posted by admin

Kabar baik VIC Action

Kabar baik tentang VIC Action (Visual Interactive Collective Dialog – Action) datang dari kawan-kawan tim proyek Hi-Five. Saat berkunjung di Makassar (satu dari tiga kota lokasi pilot), tim melihat aksi cepat warga di satu kelurahan membersihkan tumpukan sampah sepanjang 70 meter. Meski belum menuntaskan  akar persoalan, langkah awal ini memunculkan harapan VIC Action bisa diaplikasikan untuk memicu partisipasi warga dalam sektor sanitasi.

 

Pilot untuk VIC Action sendiri berlangsung cepat. Di satu lokasi dilakukan pelatihan 2 hari bagi warga, nakes (tenaga kesehatan) dan fasilitator Hi-Five. Sessi yang dominan adalah praktik, baik praktik di kelas mapun di lapangan. Topik pelatihan mencakup seni fasilitasi, komunikasi partisipatif, percakapan apresiatif, dan metodologi VIC Action, yang sesungguhnya sederhana saja.

 

Pada sessi praktik lapangan, partisipan pelatihan diharapkan dapat memfasilitasi aksi. Aksinya sendiri tidak dibatasi, yang penting datang dari warga dan dapat menjadi entry point bagi pembangunan sektor sanitasi dan higinitas.

 

VIC Action terdiri dari 3 komponen, yakni 1) cari dan rekam kekuatan (dengan foto dan dialog singkat), 2) dialog warga untuk bangun impian dan aksi bersama, 3) aksi kecil.

 

Secara eklektif  VIC Action meramu sejumlah metode yang sudah umum, seperti pendekatan strength-based (seperti AI, PD dll), pendekatan aksi dan pengembangan narasi/ percakapan.

 

“Pertemuan ini tidak boleh menghasilkan rencana pertemuan lagi. Pertemuan cukup sekali ini saja. Setelah itu, action,” Demikian prinsip yang diulang 2-3x selama pelatihan VIC Action.

 

Bukannya anti-pertemuan ataupun anti-planning, namun VIC Action mencoba mengadopsi pendekatan aksi yang lebih dekat dengan realita masyarakat.

 

Tidak seperti birokrasi, masyarakat bekerja dengan sukarela (tidak digaji) dan tanpa struktur hirarkis ala birokrasi yang lebih bisa menjamin eksekusi sesuai rencana dengan garis komando. Selain itu, masyarakat saat ini pun lebih egaliter, atau paling tidak lebih otonom. Rasanya, sulit menerapkan kerja selayaknya birokrasi pada masyarakat, yang merencanakan pekerjaan secara detail dengan berbagai tujuan, kegiatan, indikator dan dalam kerangka kerja hirarkis. 

 

Karenanya, dalam kacamata VIC Action, model yang berisi serangkaian kegiatan perencanaan dan pengajuan proposal lebih merupakan model kerja birokrasi.

 

Dalam VIC Action perencanaan atau tindak lanjut hasil refleksi adalah hasil pengalaman dalam aksi dan dilakukan sepanjang aksi. Semisal, ketika pertemuan pertama (dan satu-satunya) menghasilkan kesepakatan bahwa warga akan menyingkirkan sampah di suatu jalan, maka setelah beraksi di lapangan, warga pun menilai sendiri apakah aksinya sudah cukup dan aksi apalagi yang mesti dilakukan untuk mencapai mimpi. Percakapan di kala aksi itu yang merupakan proses perencanaan dan hasilnya adalah lanjutan aksi.

 

Yang dimaksud dengan aksi pun tidak selalu merupakan kegiatan besar yang kompleks. “Apa yang bisa kita sendiri  lakukan untuk mencapai mimpi kita ini?” Demikian pertanyaan fasilitator. Kalaupun ada warga yang mengemukakan bahwa aksi mesti menunggu bantuan eksternal (seperti pemerintah), fasilitator terus mengejar, “Kalau dari masyarakat, apa yang bisa dilakukan? Aksi apa yang bisa dilakukan masyarakat sendiri tanpa menunggu bantuan pemerintah yang entah kapan datangnya?”

 

Begitu ide terlontar, tugas fasilitator adalah mengerucutkan (konvergensi ke aksi yang lebih fokus dan sederhana) serta memprovokasi detail komitmen (Kapan dilakukan? Di mana? Siapa melakukan apa? dst). Setelah detail disepakati, tugas fasilitator selanjutnya adalah mengunci kesepakatan dan melihat apakah kemudian terjadi aksi.

 

Syukurlah di beberapa lokasi, aksi terlihat muncul.

 

 Risang Rimbatmaja 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 183 + 6 =

Artikel Kegiatan Lainnya :



Versi Mobile