Fasilitator Proses Kreatif

29 Juni 2012 - Posted by admin

Fasilitator Proses Kreatif

Selama dua hari (22-23 Juni 2012) Lapangan Kecil bersama-sama kawan-kawan di Bojonegoro belajar mengenai seni fasilitasi yang berfokus pada fasilitasi proses kreatif. Bertempat di aula terbuka Hotel MCM, ajang yang didukung oleh Yayasan Peran, Mobil Cepu Ltd, Kantor Arsip & Perpustakaan Kab Bojonegoro, dan IFN (Indonesia Facilitators’ Network) diikuti sekitar 30 orang partisipan dengan beragam latar belakang. Sebagian di antara mereka adalah guru yang mengembangkan perpustakaan sekolah, sebagian lain adalah penggiat perpustakaan masyarakat, blogger, penggiat LSM, dan kawan-kawan PNS yang terlibat dalam jasa layanan perpustakaan daerah.

 

“Membuat perpustakaan itu mudah. Yang sulit itu membuatnya terus hidup,” kata mba Sekar, kawan Lapangan Kecil yang mengundang kami ke Bojonegoro. Menurutnya, perpustakaan bukan sekedar mengoleksi dan meminjamkan buku, tapi lebih dari itu, perpustakaan mesti bisa mengembangkan partisipasi masyarakat sehingga perpustakaan ramai dengan kegiatan-kegiatan pembelajaran bersama. Di sini, peran fasilitator menjadi penting.

 

Dalam kerja fasilitasi sendiri, proses kreatif sangat diandalkan dalam tahap divergensi, proses di mana orang mesti berada dalam posisi nyaman untuk mengeluarkan ide-idenya, seliar apapun idenya. Di sini, pola berpikir analitis mesti dikurangi, khususnya bila kemampuan analitis ditujukan untuk menilai pas tidaknya suatu ide, sebelum semua ide tercurahkan.

 

Di Bojonegoro kita bersama-sama belajar memfasilitasi proses curah pendapat (brainstorming), proses divergensi yang 1) mementingkan kuantitas dari pada kualitas, 2) mengenyampingkan penilaian apalagi penghakiman pihak lain dan juga si pencetus ide itu sendiri, 3) menghalalkan pemunculan ide dari ide-ide sebelumnya dan 4) mendorong ide-ide liar di luar kotak pemikiran yang umum (out of the box).

 

Selain itu, karena proses kreatif memiliki musuh besar seperti tekanan, ketakutan atau kekhawatiran, maka ajang belajar bersama di Bojonegoro pun memasukkan pembelajaran tentang pengembagan hubungan, komunikasi non-judgmental, dan pengembangan percakapan.

 

Karena dirasa relevan dengan pekerjaan sehari-hari, di akhir pembelajaran terlontar ide untuk membentuk kumpulan pembelajar fasilitasi. IFN sendiri menyambut baik ide-ide seperti ini. Moga-moga dalam waktu dekat kita akan mendengar munculnya IFN/ Bojonegoro.

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 113 + 8 =

Artikel Kegiatan Lainnya :



Versi Mobile