Aplikasi Pendekatan Berbasis Kekuatan di Isu Lingkungan

18 Juni 2012 - Posted by admin

Aplikasi Pendekatan Berbasis Kekuatan di Isu Lingkungan

Pendekatan strength perspective berbeda dengan pendekatan deficit atau problem solving. Menurut Healy dalam bukunnya Social Work Theories in Context (2005), perspektif kekuatan berfokus pada kapasitas dan potensi-potensi yang dimiliki pengguna layanan. Perspektif itu berkonsentrasi pada memampukan individu-individu dan komunitas-komunitas untuk menyampaikan dan bekerja menuju harapan masa depan mereka, ketimbang menyelesaikan masalah masalah lalu atau yang sekarang.

 

Menurut Dennis (1992) dalam bukunya The Strengths Perspective in Social Work Practice, orang-orang adalah partisipan aktif dalam proses menolong (menguatkan), semua orang memiliki kekuatan, yang kadang belum dikeluarkan, kekuatan menumbukan motivasi untuk berkembang dan kekuatan sifatnya internal dan juga terkait dengan lingkungan.

 

Contoh aplikasi perspektif kekuatan, di antaranya adalah AI (Appreciative Inquiry) dan PD (Positive Deviance). AI (Appreciative Inquiry) bisa dikatakan sebagai model perubahan masyarakat atau organisasi atau kelompok atau bahkan individu yang didasarkan pada pencarian apa yang terbaik dan relevan. Pembuatnya, David Cooperider menyebutkannya sebagai upaya pencarian sistematis apa yang telah memberi kehidupan pada sistem yang hidup pada saat ia paling hidup, efektif dan paling mampu (Cooperider, 2003 dalam Gergen dan Gergen: buku Social Construction A Reader, 2003.

 

AI jelas berbasis pemikiran social constructionism karena perubahan yang dikembangkan adalah hasil interaksi antara fasilitator dan komunitas, di mana yang menjadi sentral adalah seni dan praktik bertanya yang dapat menguatkan kapasitas sistem untuk menangani, mengantisipasi dan meningkatkan potensial yang positif (Cooperider, 2003). Realitas sosial sendiri dipandang sebagai sesuatu yang bisa dibentuk kearah yang lebih baik melalui pengembangan hal-hal terbaik yang pernah dialami. Model yang dikembangkan AI mengikuti siklus 4D (Discovery – Dream – Design – Destiny).

 

Sama halnya dengan AI, PD (Positive Deviance) juga berfokus pada apa yang berhasil dalam sebuah komunitas dan berupaya untuk meluaskan pengetahuan itu pada semua. PD merupakan pendekatan kekuatan atau asset yang didasarkan pada keyakinan bahwa dalam setiap komunitas terdapat sejumlah individu (penyimpang positif) yang istimewa atau tidak umum, yang memiliki praktik dan perilaku yang menghasilkan kondisi yang lebih baik dibandingkan tetangga mereka yang sebetulnya memiliki sumber daya yang sama dan menghadapi risiko yang sama pula. Sama seperti AI, dalam PD juga dikenal PDI (PD Inquiry) yang berupaya mencari praktik-praktik unit (kekuatan di komunitas).

 

 

Proyek Pasar Manggis

Penulis menamai proyek ini sebagai proyek Kampung Adem. Secara administrasi, proyek ini memiliki nama yang kompleks dan cenderung tidak relevan, yakni Pelepasan Masyarakat Dalam Perbaikan Kampung Kelurahan Pasar Manggis tahun 2011. Nama administratif itu sama sekali tidak relevan, karena yang diharapkan terjadi bukan pelepasan sebuah komunitas yang telah didampingi, namun justru mendampingi komunitas baru atau dalam hal ini RW baru. Istilah “pelepasan” mungkin digunakan karena pertimbangan administrasi kantor dari penyandang dana, yakni Sudin (Suku dinas) Perumahan Jakarta Selatan, di mana mereka sudah mendampingi Kelurahan Pasar Manggis sejak empat-lima tahun terakhir, namun fokus kerja dari tahun ke tahun sebetulnya berada di tingkat RW. Intervensi sudin kelihatannya tidak bisa hanya sebatas RW dan minimal berada di tingkat kelurahan. Karena itu, meski bekerja di tingkat RW, secara administrasi tetap digunakan istilah kelurahan. Namun dengan itu, dari sisi penamaan, digunakan istilah berbeda, seperti tahun pertama adalah penilaian kebutuhan/ survai, tahun kedua fokus pada desain proyek dan sebagainya. Tahun 2011 ini secara administratif dinamai pelepasan, namun sebetulya intervensi baru di 3 RW yang belum mendapat intervensi.

 

Proyek ini direncanakan berlangsung kurang dari setahun atau tepatnya sekitar 8-10 bulan atau mempertimbangkan kerumitan administrasi, efektifnya mungkin hanya berlangsung 5-6 bulan (berakhir sekitar Feb/Maret 2012). Dari sisi penulis, proyek ini merupakan proyek pengembangan atau fasilitasi komunitas di mana yang dipentingkan adalah proses partisipasi, dialog, saling pengertian, konsensus dan/ atau kerjasama. Namun, dari sisi administrasi proyek, tujuannya berbunyi:

 

1.  Melanjutkan fasilitasi dan dampingan masyarakat di RW 07 untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan lingkungan perumahan menuju lingkungan perumahan sehat dan ramah lingkungan.

2.  Melakukan sosialisasi dan pelatihan tentang cara-cara pengelolaan lingkungan perumahan menuju lingkungan yang sehat dan ramah lilngkungan untuk seluruh RW.

3.  Menata lingkungan secara parsial (penghijauan) pada kawasan padat (RW 02, 03, dan 04), yaitu pada titik-titik lokasi yang masih memungkinkan.

4.  Melakukan pendataan lapangan untuk mengetahui kebutuhan sarana prasarana dan fasilitas lingkungan perumahan, serta pendataan aspek sosial ekonomi masyarakat dalam rangka penyusunan Rencana Induk (Master Plan) Perbaikan dan Pengelolaan Lingkungan Perumahan Permukiman untuk Wilayah Kelurahan Pasar Manggis.

 

Yang menjadi visi bersama antara pelaksana dan penyandang dana adalah keinginan untuk melihat kampung-kampung di belakang Pasar Manggis, yang dikategorikan dalam dokumen resmi pemerintah ke dalam kampung kumuh, menjadi lebih hijau dan besih. Selain itu, di dalam komunitas itu sendiri diharapkan memiliki kecakapan dalam mengelola (sebagian) sampahnya sendiri.

 

Setelah melakukan serangkan kegiatan pengenalan lapangan (fisik dan sosial), penulis meminta pihak kelurahan untuk menyelanggarakan rembug warga. Setelah terpotong masa puasa dan liburan panjang lebaran, pihak kelurahan menyelenggarakan rembug warga di tanggal 30 September 2011 di ruang pertemuan kelurahan.

 

Proses pertemuan sendiri tampaknya mengagetkan partisipan dan pihak kelurahan. Karena alih-alih menyampaikan materi tentang tujuan proyek dan kegiatan-kegiatan secara detail, penulis dan tim memperlihatkan foto-foto lapangan. Ada foto-foto pojok lingkungan yang banyak tanaman dan bersih dari sampah. Ada pula foto-foto lingkungan yang banyak sampah dan mungkin terkesan kotor.

 

Alih-alih menyuluh, penulis dan tim bertanya, apa rasanya bila partisipan memiliki kampung yang bersih, hijau dan adem, seperti yang mungkin bisa digambarkan dalam foto-foto. Dari sini diskusi bergulir. Prosesnya sendiri tidak selalu bergulir seperti yang diharapkan, Penulis dan tim beruapaya sekuat mungkin agar partisipan tidak mengeluhkan kekuarangan ini itu, dan lebih fokus pada mendiskusikan mimpi dan upaya-upaya yang bisa dilakukan. Tapi, entah, mungkin budaya ketergantungan cukup kuat, suara-suara yang menuding, mengangkat masalah yang tidak tuntas-tuntas dll masih saj amuncul. Namun, akhirnya muncul permintaan dari RW-RW agar tim proyek datang ke RW masing-masing dan melakukan sesuatu.

 

Kerja lapangan pertama dilakukan di RW4. Pada tahap awal, tim proyek bersama tim kecil RW yang kebanyakan berisi kader Posyandu berjalan-jalan melihat lingkungan, atau istilah proyeknya, transect walk. Tempat tujuan utama adalah pojok-pojok yang bersih, rindang dan indah karena banyak tanaman. Di antara kerapatan rumah-rumah dan sela-sela gang kecil yang bercabang-cabang ternyata tetap ditemui sudut-sudut yang hijau yang rindang dan rapih.

 

Di pojok-pojok itu tim dan kader-kader Posyandu mewawancarai pemilik pojok dengan beberapa pertanyaan pokok, sbb

 

1. Tanaman apa ini? Sejak kapan menanamnya? Dapat dari mana? Apakah ada kegunaan khusus? (semisal untuk obat dll)

2. Kenapa Ibu/ Bapak memanamnya? Dari mana idenya? Apa motivasinya?

3. Apa yan Ibu/ Bapak suka dari tanaman-tanaman itu? Apa manfaat yang Ibu/ Bapak bisa petik?

 

Setelah itu, kami melakukan sessi foto bersama. Foto-foto itu kemudian dicetak dan bersama pengetahuan hasil wawancara dibawa ke rembug RW.

 

Rembug RW 4 berlangsung hari Jum’at tanggal 21 Oktober pada malam hari di selasar kantor RW. Kantor RW 04 sendiri terletak di belakang pasar, di pinggir jalan. Walhasil, sesekali bajai dan motor melintas membuat noise. Ada lebih dari 30 partisipan yang hadir, kurang lebih meliputi Pak RT, pemuda, ibu-ibu Posyandu/ PKK dan aktivisi ormas.

 

Tim lebih banyak menggunakan teknik diskusi kelompok kecil sehingga diskusi bisa berlangsung intensif per kelompok. Foto-foto diperlihatkan dan dibagi untuk kemudian didiskusikan: Di mana tepatnya ini? Apa enaknya atau tidak enaknya kondisi ini? Untuk mengantisipasi kurangnya dinamika, di setiap kelompok disisipkan juga 1 foto yang negatif (umumnya selokan yang penuh sampah).

 

Diskusi dalam kelompok terlihat berlangsung ramai. Awalnya seperti tebak-tebakan dan penuh guyonan, “Ini tempat siapa?”; “Apa tempat Pak Parman? Bu Ani?”; “Kayanya kok ga kaya begini ya?“

 

Setelah diketahui lokasi foto, diskusi masuk ke tahap kedua tentang enak dan tidak enaknya kondisi di foto. Di sini partisipan terlihat mulai serius. Ketika ditanya, mana kondisi yang diinginkan, terpilih foto-foto positif yang menjadi acuan bersama.

 

Dan, tidak lama berselang, secara alamiah, muncullah pertanyaan/tantangan dari warga dalam bentuk ungkapan: “Pak, action-nya bagaimana ini projek?”; “Bang, ini kita jangan diajak ngomong saja…”; “Kalau diskusi-diskusi kaya begini, sudah sering kita.”

 

Bagi tim, inilah yang ditunggu-tunggu. Tim fasilitator pun berespon, “Kalau begitu, sekarang apa mesti dilkaukan agar ini bukan omdo (ngomong doang) atau diskusi doang. Supaya bisa jadi action nyata, apa yang mesti dilakukan?”

 

Setelah berdiskusi, muncullah empat ide untuk aksi awal, yakni pelatihan menanam, membuat kompos, bantuan tanaman, dan sosialisasi atau penyuluhan lebih lanjut. Pelatihan pertama berlangsung, satu minggu kemudian, tepatnya tanggal 30 Oktober, yakni pelatihan tanam menanam dan pembuatan kompos dilaksanakan. Dari 4 pelatih, 3 pelatih berasal dari RW itu sendiri. Dalam diskusi terungkap, di RW itu sendiri mereka memiliki ahli-aahli dalam tanam menanam dan pembuatan kompos.

 

Pelatihan berlangsung sampai sore. Selain pemberian teori, warga juga melakukan praktik menanam dan membuat kompos di pojokny amasing-masing. Selain warga RW itu, perwakilan warga dari RW lain dan LMK pun ikut bergabung. Interaksi di pelatihan memunculkan ide baru agar RW 4 dijadikan pilot projek bersama, khususnya untuk pembuatan pupuk cair dan kompos yang, bila berhasil, akan diperluas ke RW-RW lain. Tim RW 4 pun akan membantu pelatihan RW-RW lain.

 

Dari RW 4, tim proyek bergerak ke RW 2. Setelah melakukan sejumlah kegiatan pengenalan. Rembug warga diputuskan untuk dilangsungkan hari ini, tanggal 11/11/11, waktu tepatnya adalah malam hari dan lokasinya di Mesjid Al-Abror. Proses rembug warga mestinya lebih mudah karena tim sudah berpengalaman dalam kegiatan sebelumnya.

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 188 + 9 =

Artikel Kegiatan Lainnya :



Versi Mobile