Ujicoba Penyuluhan Fasilitatif

31 Mei 2013 - Posted by admin

Jaman berubah, teknik menyuluh juga mesti diubah. Menyuluh tidak bisa sekedar menyampaikan informasi. Di jaman sekarang, warga relatif lebih otonom di mana dia sendirian dapat menentukan apakah akan menerima atau menolak informasi.

 

Dalam konteks di atas, Lapangan Kecil terlibat dalam ujicoba modul Komunikasi Antarpribadi yang dikembangkan Lapangan Kecil bersama Joana Finchley, dosen komunikasi UNSW (University of New South Wales) Australia yang saat ini tengah menjadi konsultan NICE (Nutrition Improvement for Community Empowerment) Kementerian Kesehatan (d/h Depkes) dengan dana ADB.

 

Sekitar 12 teknik didiskusikan selama sekitar 2 jam bersama 10 kader Posyandu di RW 04 Rawa Badak Selatan, Jakarta Utara (22/7/2013). Setelah itu, sekitar 1 jam kesepuluh kader itu mengikuti sessi praktik bersama 10 warga yang tinggal di RW itu. Satu kader mendapat giliran sekitar 2-3 kali sessi penyuluhan pendek.

 

Teknik yang didiskusikan sebetulnya teknik-teknik dasar seperti komunikasi nonverbal seperti senyum, sentuhan, jarak sosial/ komunikasi dan gesture lainnya. Namun, sesssi ujicoba itu menekankan penjiwaan dan penggunaan dengan kreatif. ”Senyum bukan hanya membuat klien kita nyaman, tapi juga membuat kita sendiri nyaman,” ungkap seorang narasumber.

 

Sessi ujicoba juga melatih teknik bertanya partisipan. ”Penyampaian pesan mesti dilakukan ketika klien kita mau menerima pesan. Kita mau menerima pesan ketika kita bersikap terbuka dan berhasrat untuk menerima pesan,” pesan fasilitator.

 

”Kadang kita ingin membuat partisipan bersikap terbuka dan berhasrat dengan cara mengatakan: ayo santai ya, santai saja, bu/ pak atau ayo kita mesti berpikiran terbuka dan lain-lain. Tapi, itu tentu saja tidak akan berhasail,” ujarnya lagi.

 

Dalam sessi itu ditekankan bahwa pendekatan fasilitatif menggunakan teknik-teknik bertanya yang menyenangkan dan memberi ruang bagi partisipan. ”Kalau orang ditanya dan kemudian bercerita dan di lain pihak, penyuluh mendengar dengan seksama, maka kemungkinan dia akan melakukan hal serupa (mendengar) ketika penyuluh bercerita,” imbuhnya. ”Bertanya ibarat memberi ruang bagi partisipan untuk memiliki ruang dan waktu untuk kemudian membuka diri. Bila kemudian dia sudah berhasrat, menyuluh menjadi pekerjaan yang mudah dan menyenangkan,” pesannya.

Tags : penyuluhan
Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 182 + 6 =

Artikel Kegiatan Lainnya :



Versi Mobile