Belajar fasilitasi dari narasi agama (Islam)

19 Mei 2013 - Posted by admin

Belajar fasilitasi dari narasi agama (Islam)

Beberapa kali Lapangan Kecil menyelenggarakan sessi belajar fasilitasi bersama kawan-kawan Pondok Pesantren atau tokoh agama (ustad/ ustadzah). Bagi kami, interaksi bersama mereka menjadi pengalaman amat penting karena banyak konsep dan teknik fasilitasi yang kami dapatkan dari narasi agama (Islam).


Kami belajar bahwa kemampuan berkata-kata (mengembangkan konsep) menjadi kompetensi sentral manusia. Ketika Adam diciptakan dan “dipamerkan” kepada mahluk-mahluk lain (yang sempat mempertanyakan kompetensinya), satu ayat menerangkan: Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?“(Al-Baqarah: 33).


Bahkan, ketika Adam dan Hawa “tergelincir” ke bumi akibat godaan (kata-kata persuasif) setan, Sang Pencipta membekali mereka dengan kata-kata. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 37).


Bukan hanya itu, narasi agama Islam juga mengajarkan prinsip resiprokal dalam komunikasi, “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku” (Al-Baqarah: 152). Atau ada ayat lain mengatakan: “Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (Al-Baqarah: 40).


Tema penting lainnya adalah komunikasi apresiatif, baik dalam tataran konsep maupun teknik, seperti ditunjukkan dua ayat berikut: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Asy-Syarh: 5-6); “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (Ad Duha:  11).


Selain realitas dari kata-kata, prinsip resiprokal, komunikasi apresiatif, banyak tema lain yang kami dapatkan, semisal hubungan perbuatan dengan kata-kata, kata-kata yang naik lalu tercatat sebagai amal, gaya bahasa birokratis/ konseptual dan theatre of mind, konsistensi komunikasi intra dan antarpribadi, mode mental dalam berkomunikasi untuk mempengaruhi perilaku, dan masih banyak lainnya. Singkatnya, semakin banyak beriteraksi dengan para tokoh agama, semakin kami tercerahkan akan konsep dan teknik fasilitasi berbasis percakapan. Moga-moga saja kami bisa terus belajar bersama mereka.

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 180 + 9 =

Artikel Kegiatan Lainnya :



Versi Mobile