Melatih kecakapan komunikasi dengan berolahraga

20 November 2013 - Posted by admin

Melatih kecakapan komunikasi dengan berolahraga

Belajar olahraga bukan hanya untuk kecakapan berolahraga ataupun kesehatan fisik. Banyak hal lain yang bisa diperoleh anak-anak dari olahraga, termasuk kecakapan komunikasi seperti persahabatan, keberanian berpendapat di muka umum, dan interaksi positif lainnya. Karena itu, guru perlu memanfaatkan potensi-potensi itu.

 

Potensi-potensi olahraga dipelajari fasilitator-fasilitator dari Lapangan Kecil ketika terlibat dalam penelitian formatif untuk program TOPS yang diselenggarakan British Council dan Inspirational International (September – Oktober 2012).

 

TOPS sebagai bagian program Olimpik London adalah kegiatan olahraga berbagai permainan yang saat ini tengah dijalankan sejumlah peksos (pekerja sosial) dan guru penjeas (pendidikan jasmani) bagi anak-anak rentan/ jalanan di sejumlah sanggar/ rumah singgah dan anak-anak SD di sejumlah kota.

 

Tipe/varian olahraga yang ditawarkan TOPS beragam, sekitar 24 permainan. Selain melatih kemampuan fisik, TOPS mengandung potensi-potensi pengembangan aspek sosial dari anak. Semisal, ketika fasilitator (peksos/ guru ketika memainkan TOPS tidak disebut sebagai pelatih atau instruktur) memberikan gambaran tentang permainan, mereka dapat melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mudah dijawab agar anak terpancing untuk menjawab atau bahkan bertanya. Ketika anak bertanya, fasilitator pun dapat melakukan paraphrasing untuk menunjukkan pernghargaan pada si anak. Sebelum atau sepanjang permainan anak-anak pun dapat diberi ruang/ waktu untuk berdiskusi menyusun strategi.

 

Penelitian formatif juga mendukung kebutuhan untuk pengembangan aspek komunikasi dari TOPS. Pada anak-anak rentan, masalah drop out atau absensi sekolah ternyata banyak berisi “masalah komunikasi” seperti persuasi kawan-kawan membolos atau masalah komunikasi murid-guru (guru dianggap galak, tidak berani mengemukakan pendapat).

 

Kemampuan komunikasi (antarpribadi atau kelompok) yang bisa dikembangkan adalah seperti anak-anak bisa saling berkomunikasi dan memotivasi secara empatik. Dibayangkan pula di dalam kelompok anak bisa mengajak berpikir kritis. Semisal, ketika kelompok ingin berbuat yang salah (tawuran dan lain-lain), sebagian anak bisa menjadi devil advocate atau fasilitator dan bertanya, apa nih keuntungan dan kerugian tawuran? Apa resikonya? Bukannya bisa membuat orang tua merana? 

 

Risang Rimbatmaja

 

Tinggalkan Komentar
  • Nama
  • Email
  • Komentar
  • Kode Verifikasi : 142 + 5 =

Artikel Kegiatan Lainnya :



Versi Mobile