Berita Fasilitator

Teknik Fasilitasi bagi Pendamping Masyarakat

05 Juni 2012
BBPPK Kemenakertrans - Lembang
Teknik Fasilitasi bagi Pendamping Masyarakat

Ini adalah angkatan ke-VI Workshop Belajar Bersama Fasilitasi bagi Para Pendamping yang dilaksanakan 6 hari di Lembang. Kegiatan ini diselenggarakan oleh BBPPK Kemenakertrans. Lapangan Kecil berperan sebagai fasilitator workshop. Berbeda dengan angkatan-angkatan awal, untuk angkatan V-VI, Lapangan Kecil bermitra dengan pelatih dari BBPPK yang sebelumnya telah mengikuti ToT Belajar Bersama Fasilitasi. Di workshop-workshop mendatang, kontribusi Lapangan Kecil diharapkan semakin kecil dan pada akhirnya, diharapkan tim pelatih dari BBPPK akan mengambil alih sepenuhnya Workshop Belajar Bersama Fasilitasi bagi Pendamping.

Latihan VIC Action

15 Mei 2012
WSSH - Makassar, Medan, Surabaya
Latihan VIC Action

Mengelola diskusi yang berorientasi pada aksi sebagai hasil, aksi sekecil atau sederhana apapun. Itulah VIC Action yang dicoba dikembangkan High Five pada fasilitator program dan fasilitator masyarakat. VIC Action adalah versi singkat yang berorientasi pada aksi dari VIC Appraisal yang sebelumnya dikembangkan dan diuji JHU/CCP di Pasifik Selatan. Bentuknya adalah fasilitasi diskusi singkat (sekitar 1-2 jam) yang sebelumnya didahului oleh pengambilan foto lingkungan/ kondisi. Diskusi dilakukan dengan diselingi permainan dan tentu saja, dengan bantuan foto-foto. Hasil diskusi adalah aksi, dan bukan jadwal meeting berikutnya. 

Ujicoba VIC Action dilakukan di tiga kita Makassar  (15 - 16 Mei 2012), Medan (20 - 21 Mei 2012) dan Surabaya (30 - 31 Mei 2012).

 

Mencari Benih Norma Sosial Tanpa Rokok

01 Mei 2012
JHU/ CCP - Bogor - Palembang

Dalam dua minggu di awal bulan Mei 2012, fasilitator-fasilitator Lapangan Kecil mendapat tugas mengelola diskusi warga dan sejumlah wawancara untuk mencari tahu bagaimana caranya mengembangkan norma sosial tanpa rokok. Seperti kita ketahui bersama, perilaku kebanyakan mereka yang merokok acap kali tidak mengindahkan mereka yang tidak merokok. Akibatnya, banyak di antara kita yang menjadi perokok pasif, yang justru bisa lebih berisiko ketimbang perokoknya sendiri.Mungkin karena ketidaktahuan atau kesungkanan, tapi kita membiarkan diri menjadi perokok pasif.

 

Diskusi dan wawancara yang akan dilakukan fasilitator-fasilitator Lapangan Kecil adalah dalam rangka mencari tahu apa yang bisa menjadi benih bagi berkembangnya norma sosial bagi ruang tanpa rokok. Dalam bahasa akademiknya, kegiatan ini dikategorikan sebagai studi formatif.

 

Pekerjaan dari JHU/CCP (Johns Hopkins University/ Center for Communication Programs US) akan diharapkan mengeluaran hasil yang bisa disampaikan pada publik pada Oktober 2012.

Memfasilitasi Para Fasilitator STBM

19 April 2012
Kemenkes - Jakarta

Kamis (19 April 2012) Lapangan kecil diundang Kemenkes memfasilitasi sessi Sinerji Fasilitator dengan partisipan: staf dinas kesehatan kabupaten, sanitarian, staf puskesmas dan fasilitator kota (CF). Totalnya ada 112 partisipan. Intinya sessi itu ingin mencari dan menyepakati potensi sinerji dari mereka yang terlibat dalam STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat).

 

Fasilitasi dimulai dengan kerja kelompok singkat. Di sini partisipan dibagi berdasarkan Tupoksi (Tugas pokok dan Fungsi). Ada kelompok Dinas kesehatan, Sanitarian dan Fasilitator. Setelah beres, masing-masing kelompok mengikuti Tradeshow di mana satu kelompok mendatangi kelompok lain untuk mendengarkan presentasi, memberikan masukan atau sekedar klarifikasi. Semua kelompok berputar ke kelompok lain yang ada dijaga 1 orang anggota. Di sini kelompok bisa berdiskusi intensif.

 

Kemudian semua kembali ke kelompok masing-masing, berdiskusi secara internal untuk membuat kesimpulan awal dari masukan yang telah diterima. Ada kelompok yang mau menerima masukan dari kelompok lain ada juga yang menerima tetapi dengan catatan. Kesimpulan yang telah dibuat dalam flipchart baru kemudian menjadi bahan untuk diskusi kembali. Hasil di flipchart itu kemudian dibawa ke diskusi besar/ pleno untuk mendapat tanggapan/ masukan final.

 

Proses kelompok besar ini memang cukup riuh, tapi untuknya berlangsung cepat dan produktif. Ngatman/ RR

Pembekalan STBM untuk Pelatihan fasilitator Lokasi TP AMPLBM

18 April 2012
Kemenkes - Jakarta
Pembekalan STBM untuk Pelatihan fasilitator Lokasi TP AMPLBM

Untuk ketiga kalinya Lapangan Kecil diminta Kemenkes mengisi sessi belajar teknik fasilitasi dalam sektor kesehatan lingkungan. Namun berbeda dengan workshop sebelumnya yang berlangsung Makassar selama 6 hari dengan partisipan sekitar 40 fasilitator dari kantor provinsi, workshop 18 April di Jakarta diikuti lebih dari 100 partisipan dari sekitar 30 kota/ kabupaten. Workshop dengan judul: Pembekalan STBM untuk Pelatihan fasilitator Lokasi TP AMPLBM memang bersifat pengantar dan waktunya pun terbatas hanya 4 jam.

 

Tanpa meja dan kursi, alias lesehan, workshop berlangsung riuh karena sessi praktik. Meski memiliki keterbatasan waktu dan tempat, Lapangan Kecil tidak merubah sessi belajar bersama menjadi kelas kuliah/ lecturing. Sessi tetap berlangsung dengan mengandalkan partiispasi dan interaksi antarpartisipan.

 

Selama 4 jam partisipan belajar bersama teknik dasar mengembangkan hubungan, komunikasi non verbal dan verbal seperti split focus dan bercerita/ story telling/ mengembangkan theatre of mind.

Pelatihan Warga : Kompos Cair

01 April 2012
Puskotling - Balai RW 04 Pasar Manggis, Jakarta
Pelatihan Warga : Kompos Cair

Lapangan Kecil bukan ahlinya dalam teknologi composting. Apalagi kompos cair. Namun, ini adalah rangkaian kegiatan warga yang mulai difasilitasi oleh Puskotling akhir tahun 2011 lalu. Tugas Lapangan Kecil adalah memfasilitasi dalam artian sesungguhnya (bukan memberi fasilitas), yakni mengajak warga berdiskusi mencari potensi-potensi dalam masyarakat sendiri untuk meluaskan tanaman rindang, hijau nan indah yang sebelumnya sudah ada di beberapa pojok di Pasar Manggis. Iya, proses fasilitasi ini memang menggunakan Strength Based Approach, mirip-mirip AI atau PD. Namun, Lapangan Kecil menggabungkannya dengan bantuan visual dari realitas (fotografi) dan transect walk.

 

Sejauh ini, warga telah membangun 1 taman di dekat MCK dan sejumlah warga melaporkan sudah menanam pohon/ tanaman di halamannya. Pelatihan-pelatihan termasuk yang menggunakan potensi warga sendiri. Pak Darmono, pelatih untuk kompos cair adalah warga setempat yang ahli di bidangnya. Seperti halnya warga lain. Lapangan Kecil justru belajar banyak darinya.

 

Detail mengenai metode dan proses fasilitasi disampaikan di bagian TEKNIK.

 

Terimakasih telah membaca.

 

Mencari Umpan Balik untuk KIE GAKI

25 Maret 2012
Kemenkes RI - Pati (Jateng), Dharmasraya (Sumbar), Bone (Sulsel)

(25/3/2012 - 4/4/2012) GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium) masih menjadi masalah "tidaktampak" di Indonesia. Masyarakat umumnya melihat masalah GAKI dari kasus pembengkakkan Kelenjar Gondok dan karena kasusnya jarang, masyarakat memandang GAKI bukan menjadi persoalan lagi. Padahal GAKI juga membuat anak-anak Indonesia kehilangan kecerdasannya dan membiuat hasil belajarnya berkurang.

 

Dalam kegiatan ini fasilitator-fasilitator Lapangan Kecil diminta untuk memfasilitasi diskusi bersama kader-kader Posyandu dan tenaga kesehatan di Puskesmas untuk mendapatkan umpan balik bagi pengembangan media KIE GAKI. Meski menggunakan format FGDs (Focus Group of Discussions), Lapangan Kecil memanfaatkan pendekatan partisipatif untuk bersama-sama mereview draft media KIE. Detail proses dan metode kami sampaikan di bagian TEKNIK.

 

Terimakasih sudah membaca.

Workshop Guru Fasilitatif

24 Maret 2012
IFN - SDIT Rahmani, Depok

Ini untuk yang ketiga kali Lapangan Kecil menyelenggarakan workshop Guru Fasilitatif. Kali ini Lapangan Kecil mendapat tugas dari IFN (Indonesia Facilitators' Network) dan seperti umumnya proses fasilitasi, workshop ini memanfaatkan pembelajaran melalui interaksi antarpartisipan. Sementara, metode ceramah dibuat seminim mungkin (< 20%). Karena memang ahlinya adalah para partisipan, yang pekerjaan sehari-harinya adalah guru, Lapangan Kecil tidak ingin berposisi sebagai narasumber. Tanya jawab ala guru murid, meski sempat muncul di sesi terakhir, dihindari dan diganti refleksi antar-individu. Topik pembahasan dan praktik mencakup mengenal dan mengenalkan, komunikasi non verbal, komunikasi verbal, mendengar fasilitatif dan lain-lain.

 

Seperti kegiatan-kegiatan IFN lainnya, workshop ini adalah kerja sukarela dari Lapangan Kecil. Bagi Anda yang berminat menyelenggarakan workshop semacam ini, silahkan kontak Lapangan Kecil dengan Ngatman di ngatmankhan@gmail.com

 

Belajar Bersama Fasilitasi

20 Maret 2012
Lapangan Kecil-IFN - Madania Center, Jember Jawa Timur

Hari Sabtu Minggu (3-4 Maret 2012), Lapangan Kecil atas penugasan IFN dan Madania Center/ Jember menyelenggarakan Workshop the Art and Science of Facilitation. Ini pertama kali IFN menyelenggarakan workshop di Jember, tapi bukan pertama kali di Jatim. Beberapa tahun lalu, bersama kawan-kawan PeacBromo, IFN pernah membuat ASF di Hotel Santika (isi, format dan metode dulu berbeda banyak dengan yang saat ini).

 

Workshop di Jember diselenggarakan di Liposos (milik Dinas Sosial Jember) dan difasilitasi Ngatman dan Risang. Ruang workshop lega dan sangat tenang. IFN memfasilitasi dua kelas yang berbeda dengan partisipan dari beragam latar belakang di antaranya pendamping masyarakat/ usaha mikro, ustad, guru, PNS, mahasiswa, dan penggiat LSM. Selain Jember, ada juga kawan luar kota yang bergabung, yakni dari Temenggung dan Bali (Klungkung).

 

Dari sisi materi, topik pembahasan dan praktik mirip dengan ASF di Jakarta, namun dengan tambahan latihan split focus, semacam latihan untuk membebaskan tubuh dari pengaruh negatif pikiran (biasanya ini berlangsung ketika berbicara di depan orang banyak di mana ketika pikiran cemas, tegang, takut….kemudian tubuh memberikan sinyal-sinyal/ menunjukkan bahasa tubuh yang justru menguatakan pikiran-pikiran itu).

 

Terimakasih telah membaca.

 

 

Outcome Mapping

29 Februari 2012
Komunitas Indonesia untuk Demokrasi - Surabaya

Pendekatan paling umum dalam pengembangan pencanaan program, monitoring dan evaluasi adalah model hirarkis/ berorientasi pada tujuan, seperti LFA (Logical Framework Analysis). Dalam konteks perencanaan dan implementasi yang cenderung birokratis dan top-down, pendekatan tujuan/ hirarkis mungkin lebih sesuai. Namun bila visinya adalah keberlanjutan, penguatan lembaga setempat yang berorientasi pada proses ketimbang output, pendekatan lain tampaknya diperlukan.

 

Salah satu model yang bisa dijadikan alternatif adalah OM - Outcome Mapping, yang melihat outcome dari sisi perubahan perilaku para mitra dalam batas. Workshop kali ini adalah partisipasi Lapangan Kecil yang ketiga dalam proses pembelajaran OM bagi para IA (Implementing Agency) Sekolah Demokrasi yang diselenggerakan KID - Komunitas Indonesia untuk Demokrasi ( 29/2/2012 - 2/3/2012). Partisipan workshop berasal dari Aceh, Kalbar, Jatim, Papua, NTT, Banten, dan Sulsel.

 

Terimakasih telah membaca.

 

Versi Mobile